OPERATION EAGLE CLAW (Operasi Pembebasan Sandera yang Berakhir Bencana)

24 April 1980, sebuah operasi militer untuk menyelamatkan sandera 52 Amerika di Teheran, Iran berakhir bencana setelah delapan prajurit US gugur dan tragisnya tidak ada sandera diselamatkan.


Krisis Iran telah berjalan ke bulan keenam dan semua permohonan diplomatik kepada pemerintah Iran berakhir dengan kegagalan, Presiden Jimmy Carter memerintahkan misi militer sebagai usaha terakhir untuk menyelamatkan sandera. Selama operasi, tiga dari delapan helikopter gagal mendarat, sehingga melumpuhkan rencana udara penting. Misi ini kemudian dibatalkan pada area drop zone di Iran, tetapi penarikan mundur helikopter bertabrakan dengan salah satu dari enam pesawat angkut C-130 , sehingga menewaskan delapan tentara dan melukai lima. Hari berikutnya, Jimmy Carter memberikan konferensi pers di mana ia mengambil tanggung jawab penuh atas tragedi tersebut. Para sandera tidak berhasil dibebaskan setelah disandera selama 270 hari.

Pada tanggal 4 November 1979, krisis dimulai ketika mahasiswa Iran militan, marah karena menganggap pemerintah AS telah mengizinkan Syah digulingkan dari Iran untuk melakukan perjalanan ke AS untuk perawatan medis. Mereka merebut kedutaan besar AS di Teheran. Ayatollah Khomeini, pemimpin politik dan agama Iran, mengambil alih situasi penyanderaan dan setuju untuk melepaskan tawanan non-AS dan perempuan dan minoritas Amerika, mengutip kelompok-kelompok ini sebagai salah satu orang yang tertindas oleh pemerintah AS. Sisanya 52 tawanan tetap pada sandera Ayatollah hingga 14 bulan ke depan.

Usaha diplomatis Presiden Carter tidak mampu menyelesaikan krisis, dan April 1980 upaya pembebasan andera berakhir dengan bencana. Tiga bulan kemudian, mantan shah meninggal karena kanker di Mesir, tapi krisis berlanjut. Pada bulan November, Carter kalah dalam pemilihan presiden untuk Partai Republik yang membawa kandidat presiden Ronald Reagan, dan segera setelah itu, dengan bantuan perantara Aljazair, negosiasi yang sukses dimulai antara Amerika Serikat dan Iran. Pada hari pelantikan Reagan, 20 Januari 1981, Amerika Serikat membebaskan hampir $ 8 miliar aset Iran yang dibekukan, dan 52 sandera dibebaskan setelah 444 hari. Keesokan harinya, Jimmy Carter terbang ke Jerman Barat untuk menyambut orang-orang Amerika dalam perjalanan pulang.

Iklan

Operasi Trikora

Operasi Trikora, juga disebut Pembebasan Irian Barat, adalah konflik dua tahun yang dilancarkan Indonesia untuk menggabungkan wilayah Papua bagian barat. Pada tanggal 19 Desember 1961, Presiden Indonesia Soekarno mengumumkan pelaksanaan Trikora di Alun-alun Utara Yogyakarta. Soekarno juga membentuk Komando Mandala. Mayor Jenderal Soeharto diangkat sebagai panglima. Tugas komando ini adalah merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia.

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Indonesia mengklaim seluruh wilayah Hindia Belanda, termasuk wilayah barat Pulau Papua. Namun demikian, pihak Belanda menganggap wilayah itu masih menjadi salah satu provinsi Kerajaan Belanda, . Pemerintah Belanda kemudian memulai persiapan untuk menjadikan Papua negara merdeka selambat-lambatnya pada tahun 1970-an. Namun pemerintah Indonesia menentang hal ini dan Papua menjadi daerah yang diperebutkan antara Indonesia dan Belanda. Hal ini kemudian dibicarakan dalam beberapa pertemuan dan dalam berbagai forum internasional. Dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949, Belanda dan Indonesia tidak berhasil mencapai keputusan mengenai Papua bagian barat, namun setuju bahwa hal ini akan dibicarakan kembali dalam jangka waktu satu tahun.

Pada bulan Desember 1950, PBB memutuskan bahwa Papua bagian barat memiliki hak merdeka sesuai dengan pasal 73e Piagam PBB Karena Indonesia mengklaim Papua bagian barat sebagai daerahnya, Belanda mengundang Indonesia ke Mahkamah Internasional untuk menyelesaikan masalah ini, namun Indonesia menolak. Setelah Indonesia beberapa kali menyerang Papua bagian barat, Belanda mempercepat program pendidikan di Papua bagian barat untuk persiapan kemerdekaan. Hasilnya antara lain adalah sebuah akademi angkatan laut yang berdiri pada 1956 dan tentara Papua pada 1957. Sebagai kelanjutan, pada 17 Agustus 1956 Indonesia membentuk Provinsi Irian Barat dengan ibukota di Soasiu yang berada di Pulau Tidore, dengan gubernur pertamanya, Zainal Abidin Syah yang dilantik pada tanggal 23 September 1956.

Pada tanggal 6 Maret 1959, harian New York Times melaporkan penemuan emas oleh pemerintah Belanda di dekat laut Arafura. Pada tahun 1960, Freeport Sulphur menandatangani perjanjian dengan Perserikatan Perusahaan Borneo Timur untuk mendirikan tambang tembaga di Timika, namun tidak menyebut kandungan emas ataupun tembaga.

Indonesia mulai mencari bantuan senjata dari luar negeri menjelang terjadinya konflik antara Indonesia dan Belanda. Indonesia mencoba meminta bantuan dari Amerika Serikat, namun gagal. Akhirnya, pada bulan Desember 1960, Jendral A. H. Nasution pergi ke Moskwa, Uni Soviet, dan akhirnya berhasil mengadakan perjanjian jual-beli senjata dengan pemerintah Uni Soviet senilai 2,5 miliar dollar Amerika dengan persyaratan pembayaran jangka panjang. Setelah pembelian ini, TNI mengklaim bahwa Indonesia memiliki angkatan udara terkuat di belahan bumi selatan.

Amerika Serikat tidak mendukung penyerahan Papua bagian barat ke Indonesia karena Bureau of European Affairs di Washington, DC menganggap hal ini akan “menggantikan penjajahan oleh kulit putih dengan penjajahan oleh kulit coklat”. Tapi pada bulan April 1961, Robert Komer dan McGeorge Bundy mulai mempersiapkan rencana agar PBB memberi kesan bahwa penyerahan kepada Indonesia terjadi secara legal. Walaupun ragu, presiden John F. Kennedy akhirnya mendukung hal ini karena iklim Perang Dingin saat itu dan kekhawatiran bahwa Indonesia akan meminta pertolongan pihak komunis Soviet bila tidak mendapat dukungan AS.

Indonesia membeli berbagai macam peralatan militer, antara lain 41 Helikopter MI-4 (angkutan ringan), 9 Helikopter MI-6 (angkutan berat), 30 pesawat jet MiG-15, 49 pesawat buru sergap MiG-17, 10 pesawat buru sergap MiG-19 ,20 pesawat pemburu supersonik MiG-21, 12 Kapal selam kelas Whiskey, puluhan korvet dan 1 buah Kapal penjelajah kelas Sverdlov (yang diberi nama sesuai dengan wilayah target operasi, yaitu KRI Irian). Dari jenis pesawat pengebom, terdapat sejumlah 22 pesawat pembom ringan Ilyushin Il-28, 14 pesawat pembom jarak jauh TU-16, dan 12 pesawat TU-16 versi maritim yang dilengkapi dengan persenjataan peluru kendali anti kapal (rudal) air to surface jenis AS-1 Kennel. Sementara dari jenis pesawat angkut terdapat 26 pesawat angkut ringan jenis IL-14 dan AQvia-14, 6 pesawat angkut berat jenis Antonov An-12B buatan Uni Soviet dan 10 pesawat angkut berat jenis C-130 Hercules buatan Amerika Serikat

Soekarno membentuk Komando Mandala, dengan Mayjen Soeharto sebagai Panglima Komando. Tugas komando Mandala adalah untuk merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia. Belanda mengirimkan kapal induk Hr. Ms. Karel Doorman ke Papua bagian barat. Angkatan Laut Belanda (Koninklijke Marine) menjadi tulang punggung pertahanan di perairan Papua bagian barat, dan sampai tahun 1950, unsur-unsur pertahanan Papua Barat terdiri dari:

* Koninklijke Marine (Angkatan Laut Kerajaan Belanda)
* Korps Mariniers
* Marine Luchtvaartdienst

Keadaan ini berubah sejak tahun 1958, di mana kekuatan militer Belanda terus bertambah dengan kesatuan dari Koninklijke Landmacht (Angkatan Darat Belanda) dan Marine Luchtvaartdienst. Selain itu, batalyon infantri 6 Angkatan Darat merupakan bagian dari Resimen Infantri Oranje Gelderland yang terdiri dari 3 Batalyon yang ditempatkan di Sorong, Fakfak, Merauke, Kaimana, dan Teminabuan.

Sebuah operasi rahasia dijalankan untuk menyusupkan sukarelawan ke Papua bagian barat. Walaupun Trikora telah dikeluarkan, namun misi itu dilaksanakan sendiri-sendiri dalam misi tertentu dan bukan dalam operasi bangunan.

Hampir semua kekuatan yang dilibatkan dalam Operasi Trikora sama sekali belum siap, bahkan semua kekuatan udara masih tetap di Pulau Jawa. Walaupun begitu, TNI Angkatan Darat lebih dulu melakukan penyusupan sukarelawan, dengan meminta bantuan TNI Angkatan Laut untuk mengangkut pasukannya menuju pantai Papua bagian barat, dan juga meminta bantuan TNI Angkatan Udara untuk mengirim 2 pesawat Hercules untuk mengangkut pasukan menuju target yang ditentukan oleh TNI AL.

Misi itu sangat rahasia, sehingga hanya ada beberapa petinggi di markas besar TNI AU yang mengetahui tentang misi ini. Walaupun misi ini sebenarnya tidaklah rumit, TNI AU hanya bertugas untuk mengangkut pasukan dengan pesawat Hercules, hal lainnya tidak menjadi tanggung jawab TNI AU.

Kepolisian Republik Indonesia juga menyiapkan pasukan Brigade Mobil yang tersusun dalam beberapa resimen tim pertempuran (RTP). Beberapa RTP Brimob ini digelar di kepulauan Ambon sebagai persiapan menyerbu ke Papua bagian barat. Sementara itu Resimen Pelopor (unit parakomando Brimob) yang dipimpin Inspektur Tingkat I Anton Soedjarwo disiagakan di Pulau Gorom. Satu tim Menpor kemudian berhasil menyusup ke Papua bagian barat melalui laut dengan mendarat di Fakfak. Tim Menpor ini terus masuk jauh ke pedalaman Papua bagian barat melakukan sabotase dan penghancuran objek-objek vital milik Belanda.

Pada tanggal 12 Januari 1962, pasukan berhasil didaratkan di Letfuan. Pesawat Hercules kembali ke pangkalan. Namun, pada tanggal 18 Januari 1962, pimpinan angkatan lain melapor ke Soekarno bahwa karena tidak ada perlindungan dari TNI AU, sebuah operasi menjadi gagal.

Sumber : Kaskus

Memoar Ventje H.N. Sumual

Artikel dikutip sebagian teknis militer berserta sejarahnya dari Buku Memoar Ventje H.N. Sumual.
Suntingan Sdr. Edi Lapian, Frieke Ruata dan BE Matindas. – Terbitan Bina Insani Jakarta 2009.

Kompas SUMU dan SSKD

Struktur Komando diseluruh wilayah Indonesi Timur telah tersusun. Panglima Tentara & Teritorium Indonesia Timur dijabat Kolonel A.E. Kawilarang, Kepala Staf Letkol Sentot Iskandardinata, Staf I Mayor Dolf Runturambi, Staf II Mayor Leo Lopulisa, Staf III Mayor Sanyoto, Staf IV Mayor Suprayogi, dan Staf V Mayor M. Saleh Lahade. Mereka adalah perpaduan dari staf dan pimpinan pasukan Brigade Seberang. Sedang Letkol Soeharto tetap memimpin Brigadenya, Brigade Garuda Mataram yang berkedudukan di Makassar dan sekitarnya. Beberapa bulan kemudian struktur Staf terjadi perubahan. Kepala Staf dipegang Letkol Kosasih, Staf II Mayor Lendy Tumbelaka, dan Staf IV Mayor Pattimana. Yang lainnya tetap.

Setelah Slamet Riyadi gugur dalam penumpasan RMS, Kawilarang mengangkat Warouw untuk menggantikannya sebagai Komandan Operasi Penumpasan RMS. Saya menggantikan Warouw sebagai Komandan Kompas-B. Nah, pada saat saya menjabat ini datang Edi Gagola menemui saya. Dia dulu staf Brigade XVI SWK 103A yang saya pimpin. Sebetulnya Edi sudah desersi dari TNI, ketika menghadapi Agresi II Belanda, waktu ada konvoi pasukan Belanda lewat dekat sektor kami, Edi malah menyerah kepada tentara Belanda untuk ditawan, saya sampai marah waktu itu. Walau sering ragu akan kesetiaannya kepada RI, sebagai staf ia amat pintar. Makanya dia saya pakai lagi.

Belum lama menduduki jabatannya di Makassar, Panglima Kawilarang berkunjung ke Sulawesi Utara. Disamping kunjungan dinas sebagai Panglima, dia menyempatkan untuk bertemu sanak keluarganya di Tondano dan Remboken. Saya, sebagai pimpinan APRIS di daerah ini mengawalnya kemana-mana. Walau Alex orang Minahasa, dia tidak banyak tahu tentang daerah ini. Kawilarang lahir dan tumbuh besar di Pulau Jawa.

Pertama bertemu, Panglima Kawilarang bilang,
“Tje, ada salam dari Overste Soeharto”.

Rupanya Soeharto sudah menceritakan kepada Panglima tentang kerjasama erat kami dalam perang gerilya di Yogyakarta. Mungkin Soeharto ingin menyatakan bahwa dirinya sudah tidak asing lagi bekerjasama dengan para perwira dan pasukan Brigade Seberang yang sekarang berperan besar di Indonesia Timur. Sekarang, Letkol Soeharto memimpin Brigade Garuda Mataram yang menjadi bagian dari ekspedisi APRIS untuk Indonesia Timur yang dipimpin Kawilarang. Brigade ini memang sangat diandalkan oleh Kawilarang. Mereka ditempatkan disektor kota Makassar dan ditebar hingga ke Sungguminasa dan Maros.

Panglima Kawilarang sering memuji-muji Soeharto. Katanya,

“Tje,.. Soeharto itu kerjanya bagus, tenang, selalu memperhitungkan segala situasi dengan matang.”
“Ya, dia memang begitu orangnya. Selalu sangat tenang dalam menghadapi masalah besar.” balas saya.
“Tapi Tje, kamu tau nda? Ada persamaan antara kamu dengan Soeharto.”

“Apa dia Panglima?” tanya saya heran.
“Sama-sama suka diam, nda banyak omong! susah bercandanya..” Jelas Panglima Kawilarang.

Kawilarang lantas bercerita bagaimana Soeharto mengatasi pemberontakan KNIL pada pertengahan Mei 1950 di Makassar. Itu pertempuran yang lebih besar dibanding peristiwa Andi Azis sebulan sebelumnya.

“Overste Soeharto itu disiplinnya luar biasa, terhadap dirinya, juga terhadap anak buahnya,” puji Kawilarang berulang-ulang.

Peranan Batalyon 3 Mei
Republik Maluku Selatan (RMS) diumumkan berdiri pada tanggal 24 dan 25 April 1950. Proklamasinya dibacakan oleh Manuhutu, Kepala Daerah Maluku Selatan. Disponsori oleh Dr. Soumokil dan Mayor Nanlohy, Nanlohy adalah komandan pasukan KNIL di Ambon. Presiden RMS Manuhutu, Perdana Menteri Dr. Soumokil merangkap Menteri Luar Negeri, Menteri Pertahanan A. Nanlohy. Setelah proklamasi, pasukan KNIL di Ambon langsung bergerak, menolak kedatangan APRIS diwilayahnya.

Pemerintah Jakarta bertindak tegas. Gerakan pemecah belahan wilayah negara Indonesia tersebut dipadamkan secara militer. Panglima Wilayah Indonesia Timur, Kolonel AE. Kawilarang ditunjuk memimpin operasi. Meski Kawilarang mengangkat Letkol Slamet Riyadi sebagai Komandan Operasi Penumpasan RMS, namun Kawilarang pun terjun langsung ke front. Sehingga pasukan APRIS lebih bersemangat.

Segera saja Kawilarang menghitung bahwa tidak cukup pasukan yang sudah dikirim pertama di Sulawesi Selatan, dan sudah tidak bisa ditambah lagi dari sana, karena harus juga tetap berjaga-jaga di sana, karena pasukan KNIL di Sulawesi Selatan masih besar, dan dengan perlengkapan kuat. Jadi, hampir seluruh pasukan kami yang ada di Sulawesi Utara dikerahkan, termasuk Batalyon Worang dan Batalyon 3 Mei. Letkol Joop F. Warouw dan saya mengatur pasukan-pasukan yang akan menyerbu dari utara.

Peranan Batalyon 3 Mei amat besar. Karena ke-3 Kompi besar mereka adalah bekas KNIL, sedangkan lawan yang kami hadapi juga sesama KNIL. Jadi mereka kenal betul taktik-taktik maupun sifat-sifat dari gerakan, dan juga senjata yang digunakan lawan.

Ada cerita lucu. Suatu hari, kebetulan saya sedang berada di dekat alat Telegraf di Markas saya, masuk kawat dari Makassar, ternyata dari Panglima Kawilarang. Saya langsung ambil dan baca sendiri. Saya memang sedikit mengerti pekerjaan telekomunikasi ini karena pernah sekolah pelayaran di Makassar. Isinya : SEGERA DISIAPKAN PASUKAN ‘BARET HIJAU’ UNTUK SEGERA DIKIRIM KE FRONT MALUKU!

Pasukan KNIL yang dalam RMS itu memang banyak personilnya yang berasal dari Baret Hijau dan Baret Merah. Mereka sangat kuat dan taktis. Pasukan-pasukan APRIS sering kelabakan dibuatnya, dan menderita banyak korban. Mereka juga penembak yang jitu dan jempolan. Salah satu korbannya adalah Slamet Riyadi yang menjadi Komandan Operasi Penumpasan RMS. Untuk menghadapi mereka, Panglima Kawilarang minta dikirimi “Pasukan Baret Hijau” dari Manado. Nah, justru disini masalahnya.

Bung Lex tidak tahu kalau jumlah personil “Baret Hijau” mantan KNIL di Manado sudah sangat sedikit sekali. Cuma sekitar 20 orang yang masih aktif, banyak yang sudah pensiun dan keluar. Lainnya sudah masuk kedalam Yon 3 Mei yang sudah dikirim lebih dulu.

Tapi saya lantas punya pikiran lain, saya panggil Empie Kanter, saya ungkapkan rencana saya. Bikin saja Depo Batalyon yang dipimpin Mamengko menjadi pasukan “Baret Hijau”! Ini pasti akan memperlancar diterimanya mereka semua secara resmi sebagai APRIS. Mereka sebenarnya sedang terancam tidak diterima dalam APRIS, soalnya MBAD, Kolonel Nasution menerapkan syarat-syarat teknis kemiliteran yang terlalu ketat, dan Kawilarang pun menjalankan intruksi MBAD itu. Padahal, pasukan Mamengko ini hanya terdiri dari umumnya laskar pemuda yang pemberani, masalah ini sudah cukup memusingkan saya. Saya mengkonsolidasi pasukan-pasukan di Sulawesi Utara ini untuk masuk APRIS, tapi sekarang, setelah misi politis strategis RI berhasil, ternyata tidak semua dari mereka akan dipakai terus.

Sebagai kesatuan, Batalyon 3 Mei ex KNIL Alex Mengko dan Lexy Anes, Depo Batalyon Frans Mamengko, dan 3 Kompi lainnya sudah diresmikan sebagai APRIS. Tapi lantas ada program APRIS yang disebut Restrukturisasi, yang antara lain berwujud penyaringan kembali semua pasukan secara individu. Individu yang dinilai tidak memenuhi syarat, tidak boleh terus sebagai TNI, mereka akan disalurkan keberbagai bidang-bidang pekerjaan lain melalui Badan Restrukturisasi Nasional (BRN). Sekarang proses penyaringan itu masih berjalan, dan pasukan anak-anak dibawah Mamengko ini banyak yang kena. Sering kali saya merasa tidak enak pada mereka, namun alasan-alasan pemerintah pun memang logis. Kebijakan sama juga diterapkan kepada bekas laskar-laskar di Sulawesi Selatan.

Nah, kali ini saya mendapat kesempatan untuk menolong para bekas laskar yang tidak jelas nasibnya itu. Saya menyuruh Empie Kanter ke tukang jahit, pesan topi Baret Hijau 800 buah. Padahal, Panglima Alex hanya minta, “biar beberapa peleton saja”. Latihan secara intensif pun langsung saya mulai untuk mereka, siang malam, tidak perlu sampai mendekati kualitas pasukan komando atau Raiders, yang penting sudah ditingkatkan jauh lebih baik daripada biasanya.

Dan ternyata, fakta dilapangan membuktikan. Para pemuda “Baret Hijau” gadungan ini, yang bahkan tidak masuk Yon 3 Mei luar biasa beraninya di medan front menghadapi pasukan KNIL Baret Hijau dan Merah asli. Bahkan, teman-teman mereka di Batalyon 3 Mei sampai terkagum-kagum. Sedemikian hebatnya Green Barret gadungan ini, sehingga tidak ada yang mempertanyakan kesahihan “Baret Hijau” mereka. Pasukan KNIL Baret Hijau dan Merah kocar kacir dibuatnya, banyak yang tewas oleh mereka, sisanya menjadi tawanan. Mungkin KNIL Green Barret asli yang tertawan terheran-heran, karena merasa tidak mengenal mereka, merasa tidak pernah bertemu dalam latihan komando.

Selesai operasi di Maluku Selatan, pasukan yang kemudian dikenal dengan nama Detasemen Mamengko ini tidak langsung kembali ke Minahasa. Mereka selanjutnya ditugaskan di wilayah Kendari Sulawesi Tenggara. Komandannya, Frans Mamengko hanya murni laskar pemuda, tapi luar biasa beraninya dan sangat cerdas. Baru berumur 20 tahun sudah dipercayakan menjadi Komandan Depo Batalyon. Tidak sedikit yang lebih senior dan berpengalaman diantara pasukan yang dipimpinnya. Frans Mamengko pernah bertugas sebagai Komandan Kodim di Minahasa dan terakhir bertugas sebagai Direktur Penelitian dan Pengembangan Intelijen TNI-AD dengan pangkat terakhir Kolonel Inf.

Saya dengar MBAD akan menyelenggarakan pendidikan latihan khusus untuk perwira di Jakarta. Semacam pendidikan dan latihan insentif peningkatan profesionalisme para komandan tentara. Saya sangat tertarik, apalagi saya dengar para pelatih teknis kemiliterannya didatangkan dari luar negeri. Mereka yang memang sudah berpengalaman sebagain instruktur, saya sangat antusias sekali, ini yang saya butuhkan dari dulu!. Lembaga Pendidikan Tinggi TNI-AD itu kemudian dinamakan SSKD, Sekolah Staf & Komando Angkatan Darat.

Ketika Panglima TT-VII Kolonel Gatot Subroto berkunjung ke Manado, langsung saya sampaikan niat saya untuk masuk SSKAD itu. Saking inginnya, saya sampai “setengah minta tolong”, bukan sekadar usul. Tapi Pak Gatot malah balik minta tolong,

Ventje tolonglah saya, jangan kemana-mana dulu. Saya masih baru disini, dampingi saya dulu, saya perlu banyak belajar. Nanti kalau sudah beres, saya pasti atur!..pasti!”

Niat saya tertunda, tapi saya tidak berhenti melangkah, saya tetap bertugas dan bekerja sebaik-baiknya, sehingga Pak Gatot sebagai Panglima menjadi sangat senang. Banyak yang kami kerjakan, merintis ini itu, disamping menjaga dan mengembangkan apa yang sudah ada.

Ketika kemudian sampai waktunya, Panglima, Pak Gatot sendiri yang langsung bertanya,

“Siapa ya kira-kira yang pantas memegang komando menggantikan Ventje disini?”

Dia tanya begitu saya sempat bingung. Soalnya, saya dengar-dengar Pak Gatot menghendaki Subroto Kusmardjo yang akan naik menggantikan saya, sedang saya sendiri sudah pernah bicara dengan Hario Kechik, dan saya menilainya sebagai seorang komandan yang pintar dan profesional. Sementara, kalau ikut “kewajaran hirarki” dari Brigade Seberang untuk perwira asal Sulawesi Utara yang ada di Manado, setelah Joop Worouw dan kemudian saya, maka yang seharusnya adalah Kembi Worang. Belum lagi bicara tentang prestasi Worang akhir-akhir ini, sejak mendarat di Makassar dan kemudian Operasi Penumpasan RMS. Pada Pak Gatot saya menjawab,

“Siap.! Mayor Worang Pak!”

Pak Gatot diam, lantas mengangguk-ngangguk perlahan. SK Panglima TT VII kemudian terbit, Mayor HV. Worang diangkat sebagai pengganti saya di Manado, bukan Broto maupun Hario.

Saya sudah di Jakarta ketika mendengar munculnya gerilya Pasukan Pembela Keadilan (PPK) di Minahasa. Pemimpinnya tak lain adalah Sam Mangindaan dan No Korompis, pemimpin-pemimpin dalam pasukan Gagak Hitam di Makassar. Sam Mangindaan maupun No Korompis merasa sakit hati, karena merasa sudah berjasa secara militer maupun politik bagi kepentingan RI tapi diturunkan pangkatnya oleh Panglima Kawilarang. Kapten No Korompis diturunkan menjadi Sersan, begitu juga teman-teman mereka yang lainnya. Termasuk Goan Sangkaeng yang lantas desersi. Gerilya PPK ini menjadi pasukan liar bersenjata, pengganggu keamanan masyarakat. Setelah Sam Mangindaan meninggal, tempatnya digantikan oleh No Korompis, wakilnya Jan Timbuleng yang kemudian terkenal dengan petualangannya di Sulawesi Utara.

Kelompok ini boleh dibilang sama dengan Kahar Muzakkar, korban dari proses transisi. Ketika pucuk pimpinan TNI berupaya membangun organisasi militer negara, proses restrukturisasi, reorganisasi, rasionalisasi, penegakan disiplin, selalu akan ada individu-individu ataaupun kelompok tertentu yang merasa dirugikan, merasa sangat berjasa dan di tidak adil. Penanganan masalah seperti ini memang harus benar-benar bijaksana.


Diposkan Erwin Parikesit (kaskuser)

DANIEL MAUKAR : Pilot pesawat tempur MiG 17 yang menyerang Istana kediaman Bung Karno

Apakah Tiger mengamuk karena Bung Karno merebut pacarnya! Betulkah? Tiger adalah julukan buat Daantje, si pemuda Minahasa yang ganteng dan gagah berani itu. Dia disebut Tiger, karena itu adalah “call sign”-nya sebagai penerbang. Dengan menggunakan pesawat tempur MiG-17 dilengkapi kanon 23 mm, digempurnya istana Merdeka dan istana Bogor. Juga kilang minyak di Tanjung Priok.

Sidang Mahmil Sam Karundeng dan Daniel Maukar

Dia dikenal sebagai satu-satunya pilot Indonesia dalam sejarah yang berani menyerang istana presiden. Kejadiannya tanggal 9 Maret 1960. Di jamannya dia disebut sebagai pilot pesawat tempur terbaik di tanah air sesudah Leo Wattimena. Masih bujangan, waktu itu pangkatnya Letnan Udara II.

Serangan itu membuat pimpinan AURI malu sekali. Kontan Kepala Staf TNI-AU Soerjadi Soerjadarma mengajukan pengunduran diri yang kabarnya ditolak Soekarno. Bos AURI ini memang merasa tertampar. Bagaimana tidak? Soalnya serangan anak buahnya tadi ditujukan buat Sang Pemimpin Besar Revolusi, Presiden Soekarno.

Walaupun begitu, Soerjadi sebagai pimpinan tidak begitu saja lepas tangan terhadap anak buahnya. Di kemudian hari orangtua Daantje sangat berterimakasih atas peran Soerjadi yang sangat membantu anak mereka dalam proses persidangan sampai dibebaskan. Komentar Soerjadi tentang itu, “Danny itu sudah saya anggap seperti anak sendiri”.

Daniel Maukar (berdiri ke3 dari kiri).

Daantje atau Danny, nama lengkapnya Daniel Alexander Maukar. Lahir di Bandung 20 April 1932 dari pasangan Karel Herman Maukar dan Enna Talumepa. Meskipun tumbuh dan tinggal dengan orangtuanya di Menteng Jakarta, namun kultur Kawanua tetap kental dalam keluarga itu.

Kecintaannya pada tanah leluhurnya kemudian membuatnya bersimpati pada gerakan PERMESTA, gerakan separatis di Sulawesi Utara (orang-orang Permesta menolak Permesta dikatakan separatis). Ini juga sedikit banyak mempengaruhi kenekatannya yang akhirnya menghadapkannya pada vonis melakukan makar.

Makar artinya upaya menggulingkan pemerintah secara tidak sah. Daniel Maukar memang punya marga Menado “Maukar”, tapi itu artinya bukan “makar”. Orang Minahasa tahu, kata “Maukar” artinya “menjaga”.

Walaupun demikian, si “Tiger” Daniel Maukar tak mampu “menjaga” luapan darah mudanya, sehingga akhirnya memborbardir istana dengan tembakan. Tak jauh meleset dari meja kerja Bung Karno. Untung saja Bung Karno luput dari serangan itu. Karena sedang berada di gedung DPA yang terletak di samping istana.

Danny sendiri mengaku tidak berniat ingin membunuh Bung Karno. Karena tahu Bung Karno itu idola. Buktinya, serangannya itu dilakukan setelah yakin Bung Karno tidak berada di tempat. Memang sebelumnya dia sempat bertanya pada petugas pangkalan yang baru kembali dari depan istana. Danny bertanya apakah ada bendera kuning berkibar di depan istana. Setelah dijawab tidak, Danny tahu itu artinya Bung Karno sedang tidak berada di istana. Yang menarik, walaupun berani memborbardir istana, tapi Danny dengan tegas menolak perintah menyerang markas AURI dan Lanud Halim Perdana Kusuma. “Itu rumah saya sendiri”. Penolakan ini turut memberi andil untuk pembebasannya kemudian, setelah sempat divonis hukuman mati.

Sampai sekarang orang masih dibuat penasaran tentang apa sebetulnya motif di balik kenekatan Daniel ‘Tiger” Maukar. Tidak banyak referensi yang mengungkap tentang itu. Mungkin satu-satunya tulisan lengkap tentang makar itu, ditulis oleh Jan S. Doward dalam buku Last Tiger Out: The True Story of Dan Maukar, Ace Pilot in The Indonesian Air Force.

Ketika masih kecil, saya sering mendengar rumor orang-orang dewasa tentang mengapa Danny ngamuk dengan pesawat jet-nya. Berani cari gara-gara dengan Bung Karno? Wah!Terdengar selentingan, pacar Danny direbut Bung Karno. Gadis Menado cantik pacar Danny yang kabarnya kerja di istana itu, namanya Molly Mambo konon digoda Bung Karno. Molly juga bekerja sebagai guru Bahasa Inggris, di samping mengajar senam.

Tapi rumor itu dibantah Daniel Maukar dalam wawancaranya yang dimuat di Majalah Angkasa. “Itu bohong!”, tegasnya. Lalu kenapa bisa berhembus kabar bahwa serangannya itu gara-gara pacarnya diganggu Bung Karno? Danny mengutip dugaan, gosip itu mungkin sengaja disebarkan CIA. Karena orang gampang percaya pada gosip yang mengaitkan Bung Karno dengan wanita. Soalnya siapapun tahu reputasi Bung Karno tentang wanita.

Diduga issue itu sengaja disebarkan untuk mengaburkan peranan CIA yang sesungguhnya di balik kekacauan politik di masa itu. Ada bukti-bukti tentang “tangan CIA” di belakang gerakan-gerakan separatisme di Indonesia ketika itu, termasuk gerakan Permesta Sulawesi Utara.

Dalam pengakuannya Daniel Maukar mengungkapkan, dia merasakan adanya pendekatan yang sistematis dari orang-orang Permesta terhadap dirinya. Namun waktu itu belum disadarinya.

Diakuinya dia mulai termakan hasutan tentang kisah ketimpangan pembangunan di Sulawesi Utara. Ini tidak adil. Padahal Sulawesi Utara sudah banyak diperas untuk pembangunan negara. Di antaranya melalui hasil kopra. Provokasi itu semakin diperuncing dengan kisah tentang Soekarno yang mulai main mata dengan komunis.

Itu membuat para pejuang Minahasa di Permesta merasa dikhianati. Padahal tidak sedikit pejuang Minahasa yang ikut mempertaruhkan nyawa berjuang merebut kemerdekaan. Sebagai catatan, umumnya para pemberontak separatisme di berbagai daerah ketika itu (termasuk Permesta), adalah pejuang gagah berani di masa perjuangan mengusir Belanda.

Gejolak darah muda Danny mulai terbakar dengan semua kisah provokatif tadi. Rasa cinta pada tanah leluhurnya bangkit untuk memprotes ketidakadilan itu. Idealisme-nya sebagai pemuda Minahasa yang peduli akan nasib kampung halamannya membuat Permesta semakin bergairah untuk mendekati ke Danny.

Bisa jadi, kehandalan Danny sebagai pilot pesawat tempur MiG-17 plus darah Kawanua-nya, membuat Permesta melirik potensinya.
Danny memang sangat mahir bermanuver tajam dengan jet MiG-17. Bahkan dalam keadaan mati mesin, dia masih bisa mendarat dengan selamat.

Begitulah. Danny penerbang tempur handal. Pihak lain butuh kehandalannya. Maka provokasi pun semakin dilancarkan, yang bikin darah muda Danny semakin mendidih. Mungkin dengan cara begini Danny bisa direkrut. Beberapa kalangan menganalisis bahwa provokasi di masa itu adalah cara CIA memecah-belah. Soalnya Amerika takut kalau Indonesia semakin akrab ke Rusia, sang musuh bebuyutan AS (Era Perang Dingin).

Amerika dan Rusia memang bersaing sengit untuk merangkul Indonesia yang kaya sumber daya alam. Sehingga taktik memecah belah jadi cara ampuh untuk mengail di air keruh. Taktik divide et impera. Bikin dua bersaudara berduel. Setelah keduanya lemah, pihak luar masuk untuk menguasai. Bukankah lebih gampang menaklukkan dua kelompok yang sudah babak belur tak berdaya?

Kembali ke cerita tentang Molly tadi. Apa betul Molly Mambo itu pacarnya Danny? “Ya, memang betul kami sempat bertunangan, tapi kami tidak berjodoh sampai ke pernikahan”, kata Danny. Lalu ditambahkannya dengan serius, “Walau begitu, penyerangan ke istana itu tidak ada sangkut pautnya dengan Molly. Sungguh. Tapi biarpun saya sudah berkali-kali bilang begini, masih banyak juga yang bilang saya bohong”. Dikatakannya, dia merasa geli bahwa orang-orang percaya dengan rumor itu. Termasuk teman-teman kuliah Molly di IKIP Jakarta.

Sebelum melancarkan serangan itu, di Bandung dia sempat memberi kecupan mesra pada Molly yang ikut mengantarnya ke Lanud Hussein Sastra Negara. Lalu dari Bandung, dengan pesawat MiG-17 itu dia melesat ke Jakarta memulai misi rahasianya. Serangan itu akhirnya gagal karena tidak adanya koordinasi yang baik. Setelah kehabisan bahan bakar, pesawatnya mendarat darurat di persawahan Garut, Jawa Barat. Para ahli penerbangan sendiri heran, bagaimana dia bisa melakukan pendaratan darurat belly landing dengan begitu baik. Dan anehnya…selamat! Setelah mendarat itu, rencananya dia akan bergabung dengan pasukan Darul Islam. Tapi belum sempat, TNI sudah keburu menangkapnya. Danny terlihat sangat tenang ketika ditangkap.

Di balik serangan itu juga, diketahui keterlibatan Sam Karundeng, seorang tokoh Permesta. Serangan Danny diduga tercetus atas perintah Sam Karundeng. Daniel Maukar mengakui bahwa dia kecewa dengan cara Soekarno memberantas gerakan Permesta, yang di matanya mereka itu adalah pejuang-pejuang berjasa bagi negara. Permesta hanya ingin pembenahan otonomi,
separatis bukanlah tujuan.

Penyerangannya ke istana adalah ekspresi kekecewaannya sekaligus untuk “memperingatkan” Bung Karno. Daniel Maukar divonis hukuman mati. Tapi berkat lobby beberapa pihak, Presiden Soekarno mengampuninya. Akhirnya tahun 1968 di era Suharto, Daniel Maukar pun menghirup udara bebas di luar tahanan.

konon MiG 17 AURI no 1162 ini yg dipakai Danny Maukar

Ada cerita menarik di balik mendekamnya Danny di tahanan. Aktris Rima Melati yang nama aslinya Marjolein (Lientje) Tambayong, suatu hari menjenguk mantan pilot itu di LP Cipinang. Dia memang kadang menjenguk bersama Vivi Maukar. Sebagai dua gadis Kawanua di tanah rantau, Rima memang bersahabat baik dengan Vivi, adik Danny.

Dari seringnya menjenguk, Rima Melati mengaku kepincut dengan si Danny. Lalu Rima Melati (nama ini pemberian Bung Karno), yang memang akrab dengan Presiden pertama itu, memohon keringanan hukuman buat Danny. Bung Karno tanya, “Dia sudah menyesal nggak?”. Bung Karno bilang dia bisa membebaskan Maukar asal ada surat pernyataan penyesalan dari yang bersangkutan. Maksudnya agar Bung Karno punya dasar tertulis untuk mengeluarkan putusan grasi. Saran Bung Karno ini disampaikan ke Daniel Maukar. Tapi dasar Tiger. Tetap sekokoh pesawat tempurnya. Danny tak pernah mau membuat surat penyesalan itu. “Saya jadi benci dia”, kata Rima.

Bung Karno tahu, idealisme perjuangan Danny sebagai anak muda telah ditunggangi oleh beberapa kepentingan di baliknya. Dan Bung Karno sangat paham bahwa Danny tidak pernah berniat ingin membunuhnya. Di balik segala kontroversi tentang Daniel Maukar, tak sedikit perwira AURI yang diam-diam menyimpan kebanggaan pada pemuda ini.

Setelah mendapat pengampunan dari Soekarno, lepas dari penjara Danny harus melupakan karir penerbangan, tapi mendapat pensiun penuh. Lolos dari hukuman mati, dinilainya sebagai mukjizat. Karena itu Danny mengakui jadi lebih menghargai hidupnya. Sebagai tanda syukur, selepas dari penjara diabdikannya seluruh hidupnya untuk bekerja di ladang Tuhan sebagai pendeta. Pekerjaan kerohanian itu terus ditekuninya hingga tutup usia tahun 2007, dalam usia 72 tahun di Jakarta.

Hanya satu hal yang dibutuhkan untuk membuat hidup berubah haluan 180 derajat. Yaitu nekat. Hasilnya ditentukan oleh bagaimana cara melakukan kenekatan itu. Dengan jet MiG-17, tujuan Danny melesat cepat bak mustang. Begitu cepatnya, sehingga ketika mendarat di sawah, secepat itu juga Danny sadar bahwa dirinya telah tersesat.

Tersesat? Bukan hanya Danny. Itu bisa saja dialami oleh setiap orang. Tapi tidak setiap orang seberuntung Danny yang bisa membenahi hidupnya untuk tidak terus tinggal dalam kesesatan.

Sumber :

  • Walentina Waluyanti, Nederland, 28 Januari 2010

Operasi Trisula

Ⓐksi sepihak yang dilakukan PKI (Partai Komunis Indonesia) berpuncak pada pembunuhan atas Pelda Sudjono di Bandar Betsy. Dengan menggunakan cangkul, linggis, pentungan, dan kampak sekitar 200 orang BTI membantai perwira itu. Pembantaian terhadap anggota militer itu mendapat reaksi keras dari Letjen A Yani. Tokoh-tokoh PKI yang mendalangi kemudian diproses secara hukum. Namun hal itu makin menambah keberanian PKI dalam melakukan aksi sepihak.

PKI yang sudah merasa kuat, kemudian melakukan intervensi ke bidang politik dengan merekayasa suatu “kebulatan tekad” dari organisasise-aspirasi mereka. Tanggal 6 Januari 1965, organisasi se-aspirasi PKI seperti SB/SS Pegawai Negeri, Lekra, Gerwani, Wanita Indonesia, Pemuda Indonesia, Germindo, Pemuda Demokrat, Pemuda Rakyat, BTI dan sebagainya mengadakan pertemuan umum di Semarang guna menggalang “kebulatan tekad” untuk menuntut pembubaran Badan Pendukung Soekarno (BPS) dan mendukung sikap Indonesia keluar dari PBB (Pusjarah ABRI, 1995,IV-A:107-108).

Keberanian PKI dalam melakukan aksi sepihak, ditunjukkan dalam aksi yang lebih berani yakni menduduki kantor kecamatan Kepung, Kediri. Camat Samadikun dan Mantri Polisi Musin, melarikan diri dan meminta perlindungan Ketua Ansor Kepung yaitu Abdul Wahid. Untuk sementara, kantor kecamatan dipindah ke rumah Abdul Wahid. Dan sehari kemudian, sekitar 1000 orang Banser melakukan serangan ke kantor kecamatan untuk merebutnya dari kekuasaan PKI. Hanya dengan bantuan Gerwani, ratusan PKI yang menguasai kantor itu bisa lolos dari sergapan Banser.

PKI juga telah mulai berani membunuh tokoh PNI. Ceritanya, di desa Senowo, Kenocng, Kediri, tokoh PNI bernama Paisun diculik PKI desa Botorejo dan Biro. Keluarganya lapor kepada Ansor. Waktu dicari, mayat Paisun ditemukan di WC dengan dubur ditusuk bambu tembus ke dada. Banser dibantu warga PNI menyerang para penculik. Tokoh-tokoh PKI dari Botorejo dan Biro dibantai. Malah dalang PKI bernama Djamadi, dibantai sekalian karena menjadi penunjuk jalan PKI. Juni 1965, Naim seorang pendekar PKI desa Pagedangan, Turen, malang menantang Banser sambil membanting Al-Qur’an. Naim dibunuh Samad. Mayatnya dibenamkan di sungai.

KUDETA 1 OKTOBER 1965
Tanggal 1 Oktober 1965 mulai pukul 03.30 sampai 05.00, gerakan makar PKI yang dipimpin oleh Letkol Untung menculik para Jenderal AD yang difitnah sebagai anggota Dewan Jenderal. Letjen Ahmad Yani, Brigjen DI Panjaitan, Mayjen Soetoyo, Mayjen Soeprapto, Brigjen S. Parman, dan Mayjen Haryono MT mereka culik dan bunuh (Puspen AD, 1965: 9-10).
Sekalipun aksi itu terjadi 1 Oktober 1965, PKI menamakan aksinya itu dengan nama “Gerakan 30 September”. Tanggal 1 Oktober itu juga, Letkol Untung menyatakan bahwa kekuasaan berada di tangan Dewan Revolusi.
Untung juga menyatakan kabinet demisioner. Pangkat para jenderal diturunkan sampai setingkat letnan kolonel, dan prajurit yang mendukung Dewan Revolusi dinaikkan pangkat satu sampai dua tingkat.

Aksi sepihak Letkol Untung yang menculik para jenderal dan membentuk Dewan Revolusi serta mendemisioner kabinet, jelas merupakan upaya kudeta. Sebab dalam Dewan Revolusi itu tidak terdapat nama Presiden Soekarno. Kabinet yang didemisioner pun adalah kabinet Soekarno. Dan jenderal-jenderal yang diculik pun adalah jenderal-jenderal yang setia pada Soekarno. Bahkan Jenderal A.H. Nasution, adalah jenderal yang pernah ditugasi Soekarno untuk menumpas PKI dalam pemberontakan di Madiun 1948.

Menghadapi aksi sepihak Letkol Untung, tanggal 1 Oktober 1965 itu juga, PBNU mengeluarkan pernyataan sikap untuk mengutuk gerakan tersebut.
Pada 2 Oktober 1965, pimpinan muda NU, Subchan Z.E., membentuk Komando Aksi Pengganyangan Kontra Revolusi Gerakan 30 September disingkat KAP GESTAPU yang mengutuk dan mengganyang aksi kudeta 1 oktober 1965 itu.

Tanggal 2 Oktober itu pula Mayjen Sutjipto, Ketua Gabungan V KOTI, mengundang wakil-wakil ormas dan orpol yang setia pada Pancasila ke Mabes KOTI di Jl Merdeka Barat. Rapat kemudian memutuskan untuk secara bulat berdiri di belakang Jenderal Soeharto dan Angkatan Darat (O.G. Roeder, 1987: 48-49). Sementara di Kediri, tanggal 2 Oktober 1965 sudah tersebar pamflet-pamflet yang menyatakan bahwa dalang di balik peristiwa 1 Oktober 1965 adalah PKI.

BENTROK BANSER VS PKI
10 Oktober 1965, sekalipun PKI menyatakan bahwa peristiwa 1 Oktober yang dinamai ‘Gerakan 30 September’ itu adalah persoalan intern AD dan PKI tidak tahu-menahu, anggota Banser di kabupaten Malang mulai menurunkan papan nama PKI beserta ormas-ormasnya. Hari itu juga, tokoh – tokoh PKI di daerah Turen mulai diserang Banser dan dibunuh. Di antara tokoh PKI yang terbunuh saat itu adalah Suwoto, Bowo, dan Kasiadi. Palis, kawan akrab Bowo, karena takut dibunuh Banser malah bunuh diri di kuburan desa Pagedangan.

11 Oktober 1965, Banser beserta santri dari berbagai pesantren di Tulungagung menyerang PKI di kawasan Pabrik Gula Mojopanggung. Sekitar 3 ribu orang PKI yang sudah bersiaga dengan senjata panah, kelewang, tombak, pedang, clurit, air keras, dan lubang-lubang di dalam rumah, berhasil dilumpuhkan. Tanpa melakukan perlawanan berarti, pasukan PKI itu ditangkapi Banser dan disembelih. Para anggota Banser dan santri yang usianya sekitar 13 – 16 tahun itu, berhasil melumpuhkan para jagoan PKI.

Pada 12 Oktober 1965, sekitar 3 ribu orang anggota Banser mengadakan apel di alun-alun Kediri. Setelah apel usai, mereka bergerak menurunkan papan nama PKI beserta ormas-ormasnya di sepanjang jalan yang mereka lewati. Di markas PKI di desa Burengan, telah siaga sekitar 5 ribu orang PKI dengan bermacam- macam senjata. Iring-iringan Banser yang dipimpin Bintoro, Ubaid dan Nur Rohim itu kemudian dihadang oleh PKI. Terjadi bentrokan berdarah dalam bentuk tawuran massal. Sekitar 100 orang PKI di sekitar markas itu tewas. Sementara, di pihak Banser tidak satupun jatuh korban. Dalam peristiwa itu, Banser mendapat pujian dari Letkol Soemarsono, komandan Brigif 6 Kediri karena kemenangan mutlak Banser dalam tawuran massal itu.

Pada 13 Oktober 1965, sekitar 10 ribu orang PKI di kecamatan Kepung, Kediri, melakukan unjuk kekuatan dalam upacara pemakaman mayat Sikat tokoh PKI setempat yang tewas dalam peristiwa di Burengan. Mereka menyatakan akan membalas kematian para pimpinan mereka. Dan sore hari, dua orang santri dari pondok Kencong yang pulang ke desanya di Dermo, Plosoklaten, dicegat di tengah jalan. Seorang dibunuh. Tubuhdicincang. Seorang dikubur hidup-hidup.

Kematian dua orang santri yang masih remaja itu, membuat Banser marah. Tapi mereka belum berani menyerbu ke desa Dermo, karena kedudukan PKI di situ sangat kuat. Akhirnya, Banser setempat meminta bantuan Banser dari pondok Tebuireng, Jombang. Dengan kekuatan lima truk, Banser Tebuireng masuk ke desa Dermo. Truk mereka diberi tulisan BTI singkatan dari Banser Tebu Ireng. Rupanya, PKI menduga bahwa BTI itu adalah Barisan Tani Indonesia yang merupakan ormas mereka. Walhasil, bagaikan siasat “kuda Troya”, pertahanan PKI di desa Dermo dihancurkan dari dalam.

Pertarungan antara Banser dengan PKI yang berakibat fatal bagi Banser adalah di Banyuwangi. Ceritanya, Banser dari Muncar yang umumnya dari suku Madura dikenal amat bersemangat mengganyang PKI. Itu sebabnya, pada 17 Oktober 1965, di bawah pimpinan Mursyid, dengan kekuatan tiga truk mereka menyerang kubu PKI di Karangasem. Di Karangasem, terjadi bentrok berdarah setelah Banser tertipu dengan makanan beracun. Dalam bentrokan itu 93 orang Banser gugur. Sisanya melarikan diri ke arah Jajag dan ke arah Cluring. Ternyata, Banser yang lari ke Cluring dihadang PKI di desa itu. Sekitar 62 orang Banser dibantai dan dimakamkan di tiga lubang dekat kuburan desa.

Pada 27 Oktober 1965, pemerintah mengeluarkan seruan agar masing-masing ormas tidak saling membunuh dan melakukan aksi kekerasan. Siapa saja yang melakukan penyerangan sepihak, akan diadili sebagai penjahat. Seruan itu dimanfaatkan oleh PKI. Mereka melaporkan anggota Banser yang telah membunuh keluarga mereka. Dan jadilah hari-hari sesudah 27 Oktober itu penangkapan dan pemburuan aparat keamanan terhadap Banser.

PENUMPASAN PKI
Dalam bulan November-Desember, setelah sejumlah pimpinan PKI seperti Brigjen Supardjo, Letkol Untung, Nyono, Nyoto, dan Aidit diberitakan tertangkap, makin terkuaklah bahwa perancang kudeta 1 Oktober 1965 adalah PKI. Saat-saat itulah pihak ABRI khususnya AD mulai melakukan pembersihan dan penumpasan terhadap PKI beserta ormas-ormasnya. Dan tangan kanan yang digunakan oleh pihak militer itu adalah “anak didik” mereka sendiri dalam hal ini adalah Banser yang memiliki jumlah anggota puluhan ribu orang.

Dalam suatu aksi penangkapan dan penumpasan PKI di Kediri, misalnya, pihak AD hanya menurunkan 21 personil. Sedang Banser yang dilibatkan mencapai jumlah 20 ribu orang lebih. Dengan jumlah yang besar itu, diadakan operasi yang disebut “Pagar Betis” yakni wilayah kecamatan Kepung dikepung oleh Banser dalam jarak satu meter tiap orang. Dengan cara pagar betis itulah, PKI tidak dapat lolos. Sekitar 6000 orang PKI tertangkap (kisah lengkap terdapat dalam buku saya berjudul “Banser Berjihad Menumpas PKI” 1996).

Penangkapan besar-besaran juga terjadi di Banyuwangi, Blitar, Malang, Tulungagung, Lumajang dan kesemuanya melibatkan Banser. Mengenai keterlibatan Banser dalam menumpas PKI, itu Komandan Kodim Kediri Mayor Chambali (alm) menyatakan bahwa hal itu merupakan strategi ABRI yang ampuh. Sebab di tubuh Banser tidak tersusupi unsur PKI. Sementara jika dalam penumpasan itu hanya ABRI yang dilibatkan, maka pihak ABRI sendiri belum bisa menentukan siapa lawan dan siapa kawan karena banyaknya anggota ABRI yang dibina PKI.

OPERASI TRISULA
Tahun 1968, ketika PKI sudah dibubarkan dan pengikutnya ditumpas, terjadi aksi-aksi kerusuhan di Blitar Selatan. Aksi – aksi kerusuhan yang berupa perampokan, penganiayaan, penculikan, dan pembunuhan itu selalu mengambil korban warga NU dan PNI. Sejumlah korban yang terbunuh, misalnya, Kiai Maksum dari Plosorejo, Kademangan. Sesudah itu Imam Masjid Dawuhan. Tokoh PNI yang terbunuh adalah Manun dari desa Dawuhan, kemudian Susanto Kepala Sekolah Panggungasri, dan Sastro kepala Jawatan Penerangan Binangun. Puncaknya, 2 orang anggota Banser yang sedang jaga keamanan di gardu di bunuh.

Para pimpinan Ansor Blitar melaporkan kecurigaan mereka kepada Komandan Kodim akan bangkitnya kembali kekuatan PKI di Blitar. Namun laporan itu tak digubris. Akhirnya, mereka menghubungi seorang aktivis Ansor yang menjadi Danrem Madiun yakni Kolonel Kholil Thohir. Oleh Kholil Thohir disiapkan 3 batalyon yaitu 521, 511, dan 527 untuk operasi yang diberi nama sandi “Operasi Blitar Selatan” . Namun operasi berkekuatan 3 batalyon itu tidak mampu mengatasi gerakan gerilya PKI.

Operasi kemudian diambil alih oleh Kodam VIII/ Brawijaya yang menurunkan 5 batalyon yaitu 521, 511, 527, 513, dan 531 dengan Perintah Operasi No.01/2/1968. Namun operasi dari Kodam inipun kurang efektif. Akhirnya, setelah dievaluasi diadakan operasi besar-besaran dengan melibatkan semua unsur yakni kelima batalyon ditambah unsur-unsur lain termasuk 10 ribu orang hansip dan warga masyarakat Blitar Selatan. Surat perintah operasi itu bernomor 02/5/1968. Dan penting dicatat bahwa 10 ribu orang Hansip itu adalah anggota Banser
yang diberi pakaian Hansip.

Dalam operasi terpadu yang diberi nama sandi “Operasi Trisula” itu, sejumlah tokoh PKI berhasil ditewaskan. Di antara mereka itu adalah Ir Surachman dan Oloan Hutapea. Sedang mereka yang tertangkap di antaranya adalah Ruslan Wijayasastra, Tjugito, Rewang, Kapten Kasmidjan, Kapten Sutjiptohadi, Mayor Pratomo, dan beratus-ratus anggota PKI yang lain. Dan salah satu strategi operasi yang paling efektif dalam Operasi Trisula itu adalah “Pagar Betis” yang melibatkan 10.000 orang Banser ditambah warga masyarakat yang kebanyakan juga anggota Banser yang tidak kebagian seragam. Satu ironi mungkin terjadi dalam Operasi Trisula itu, yakni selama operasi itu berlangsung telah ditangkap sejumlah 182 orang anggota Kodam VIII/Brawijaya di antaranya berpangkat perwira yang ikut dalam operasi tersebut (Pusjarah ABRI, 1995, IV-B:101-108).

Berdasar uraian singkat ini, dapat disimpulkan bahwa kelahiran Banser tidak terlepas dari peranan ABRI terutama AD dan Brimob yang ikut membidaninya. Itu sebabnya, keberadaan Banser sebagai paramiliter yang digunakan untuk membantu proses penumpasan PKI oleh ABRI memiliki nilai historis yang kuat, di mana semangat antikomunisme yang terkristalisasi dalam doktrin Banser itu dapat dimanfaatkan sewaktu-waktu oleh pihak ABRI jika negara dalam keadaan terancam (habis).

Sumber :
  • Jawa Pos
*Artikel ini pernah dimuat di Jawa Post dalam 3 bagian pada 2 September 1996.

NAZI Mengejar Tausendjahridges Reich!

Kedigdayaan Nazi adalah fenomena tersendiri bagi Jerman, Eropa, dan dunia. Di bawah kepemimpinan Hitler, Nazi bak panzer Jerman. Menguasai negara sekitar dan menumbangkan siapa saja yang merintangi perjuangannya, tak terkecuali Presiden Paul von Hindenburg yang amat berkuasa. Terlepas dari faktor Hitler, Nazi sendiri bukanlah partai politik biasa. Mereka misalnya punya juru propaganda tersendiri yang mahir mempengaruhi orang.

Untuk melapangkan jalan perjuangan partai, Nazi juga punya satgas -satgas khusus yang sanggup menekan siapa saja dan menguasai taktik sabotase. Cakupan visi partai bahkan tak hanya sebatas Jerman, melainkan hingga ke seluruh daratan Eropa. Pada awalnya banyak pihak meragukan kemampuan partai ini. Namun, semua terdiam ketika hanya dalam 12 tahun kekuasaannya, mereka berhasil menguasai hampir seluruh kontinen Eropa. Berikut profil partai yang telah mengunyah habis butir-butir Perjanjian Versailles 1919, memusnahkan etnis Yahudi, dan sempat membangkitkan kembali kejayaan Holy Roman Empire atau Imperium Jerman Kuno.

Meski harus dilakukan secara keras dan curang, apa yang diperjuangkan Nazi toh berhasil meraih dukungan ‘ dari sebagian besar rakyat Jerman. Itu karena baik visi maupun langkah yang mereka lakukan cukup mengena di hati berbagai lapisan masyarakat yang kala itu memang tengah hidup sulit akibat depresi ekonomi dan terhina akibat kalah dalam Perang Dunia I.

Visi atau cita-cita dari partai politik yang satu ini tak panjang namun megalomaniak. Jika diringkas dalam satu untaian kata-kata yang sederhana, mereka ingin membangkitkan kembali kejayaan Kekaisaran Jerman Kuno hingga seribu tahun. Atau, dalam istilah Jerman pada masa itu: Tausendkihriges Reich.

Hitler yakin kata-kata itu bisa mengena di hati rakyat Jerman, membangkitkan semangat hidup, dan bisa menjadi fokus perjuangan bersama. Dan, pada kenyataannya memang demikian yang terjadi.

Keyakinan itu berkobar karena sebagian besar rakyat Jerman pada kenyataannya memang sudah bosan hidup belasan tahun terpuruk akibat kekalahan dalam Perang Dunia I. Pada bagian lain dalam edisi koleksi ini disinggung bagaimana hebatnya tekanan yang dilancarkan AS, Inggris, serta sekutunya lewat Perjanjian Versailles yang ditandatangani Pemerintah Weimar pada 1919.

Perjanjian ini diantaranya mengharuskan Jerman membayar ganti-rugi dan kompensasi atas seluruh kerusakan yang terjadi di berbagai negara, menyerahkan semua wilayah koloni, dan menekan kekuatan angkatan perangnya hingga batas yang paling lemah Sebagai bangsa Nordic, mereka merasa diperlakukan tak selayaknya dan benar-benar dipermalukan.

Setelah berlangsung bertahun-tahun, keadaan sosial-ekonomi di Jerman terkena :mbasnya. Inflasi melambung dan Jerman :trlanda depresi ekonomi yang sangat hebat. Hitler yang nasionalis dan memiliki obsesi membangun kembali Jerman menganggap permasalahan tersebut sebagai peluang .untuk “memperkenalkan” Nazi.

KOPRAL HITLER – Adolf Hitler, si anak muda yang takut perang berubah setelah berdomisili di Jerman. Pemuda Austria ini masuk ke dins militer Jerman hingga berpangkat kopral. la ikut dalam PD I, mendapatkan iron cross dan sempat terluka akibat semburan senjata gas musuh. Tampak Adolf Hitler paling kiri dengan tanda silang.

Ia, pertama, tak menyia-nyiakan permasalahan tersebut sebagai motif perjuangan Nazi yang pasti akan didukung rakyat Jerman. Kedua, ia bisa mengkambinghitamkan banyak pihak untuk kemudian merebut simpati rakyat Jerman. Kambing-hitam itu di antaranya adalah kaum komunis dan warga Yahudi yang dianggap sebagai penghianat. Namun, jika ia tak bisa membuktikan diri mengubah keadaan, namanya dan pamor partai politik ini juga akan jatuh.

Sejarah mencatat, Hitler yang hanya mantan kopral Angkatan Darat Austria ternyata berhasil melakukannya. Meski untuk itu memang harus membuat Nazi lebih dulu kuat, cerdik, dan kebal serangan dari berbagai lawan politiknya. Termasuk upaya penjegalan yang dilakukan Presiden Paul von Hindenburg yang secara pribadi tak menyukai prilaku Hitler.

Untuk itu Nazi misalnya saja berkolaborasi dengan sejumlah satgas mirip angkatan perang dan kepolisian yang bisa melibas berbagai pihak yang merintangi perjuangannya. Mereka adalah SA (Sturmabteilung), yang kemudian diubah menjadi SS (Schutzstaffel), dan Gestapo alias polisi rahasia bentukan Nazi. (Lihat boks)

PARTAI BURUH

Nazi, Jerman, dan Hitler selanjutnya bersimbiosis. Eksistensi mereka mulai merekah setelah lewat pemilu yang demokratis Hitler terpilih sebagai kanselir pada 1933. Nazi menjadi besar karena Hitler. Dengan Hitler, Nazi selanjutnya bisa menguasai Eropa. Tetapi, Hitler pun tak akan berarti apa-apa tanpa partai politik yang satu ini. Tanpa sebuah kesatuan, masing-masing bukanlah apa-apa.

HITLERJUGEND – Kehebatan Hitler dalam mempropaganda semua lapisan masyarakat perlu mendapat acungan jempol. Tidak hanya kaum birokrat, tetapi juga rakyatrakyat jelata dan anak muda. Hitler membentuk kesatuankesatuan organisasi tersendiri seperti Hitlerjugend untuk kelompok anak muda.

Lewat suara pendukung-pendukungnya yang ada di Nazi pula, banyak pihak ingat betul, betapa sang Fuhrer bisa sekaligus menduduki kursi presiden tak lama setelah Paul von Hindenburg meninggal pada 1934. Proses ambil alih kekuasaan ini begitu unik, karena Hindenburg telah membentengi kursi tertingginya dengan kronikroninya. Di antara yang dijagokan adalah Jenderal Kurt von Schleicher dan mantan kanselir Franz von Papen.

Tampak dalam foto betapa antusias anak-anak muda ini berada dibawah naungan Nazi.

Sejak itu Nazi melaju bak panzer Jerman mengakomodir seluruh keinginan Hitler membangun Reich Ketiga (Drittes Reich). Reich Pertama adalah Heiliges Komisches Reich, berjaya sejak abad 18 hingga 1806. Sedang Reich Kedua adalah Kekaisaran Jerman, berjaya antara 1871 hingga 1918.

Nazi sendiri awalnya hanyalah cabang dari sebuah komite atau perkumpulan yang diberi nama Freier Ausschuss fur einen deuschen Arbeirfrieden atau Komite Pembebasan untuk Perdamaian Pekerja Jerman. Induk organisasi ini didirikan di Bremen pada 1918, sementara Nazi berakar dari salah satu cabang yang dibentuk Anton Drexler di Bremen pada tahun yang sama.

Meski mayoritas anggotanya bukan dari kalangan atas, pertemuannya selalu ramai. Pasalnya, buruh mana pun bebas berbicara dan curhat di sini. Cabang komite ini lalu dikembangkan menjadi Deutsche Arbeiterpartei atau Partai Buruh Jerman pada 1918 oleh Drexler, Gottfried Feder, Dietrich Echart, dan karl Harrer.

Karena vokal dan menyerang kebijakan pemerintah, partai yang kemudian dikembangkan menjadi Partai Buruh Jerman Nasional-Sosialis atau Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei (NSDAP) ini kerap diawasi intel AD Jerman. Apalagi setelah Pemerintah Weimar bersedia menandatangani Perjanjian Versailles pada 1919.

Pengawasan justru berbalik jadi bumerang tatkala angkatan darat menyusupkan intel muda kurus berkumis lucu bernama Adolf Hitler. Ia bukannya memata-matai, tetapi malah ikut tampil berorasi. Rasa nasionalis-nya yang kuat dipadu dengan gaya orasinya yang lain dari lain (berapi-api) justru membuat partai ini menarik perhatian banyak orang, dan tumbuh menjadi partai yang kuat. Dari yang semula hanya puluhan, lalu menjadi 500-an, untuk selanjutnya dalam waktu singkat berkembang lebih dari itu.

Sadar bahwa dirinya merupakan orator yang dikagumi, Hitler sempat mengusulkan nama Partai Revolusioner Sosialis. Namun, nama ini ditolak. Pimpinan partai tetap menghendaki partai ini bernama NSDAP merujuk organisasi serupa di Austria. Sejak itulah Hitler, yang tak suka keinginannya ditolak, berencana mengambil-alih kepemimpinan, lalu merombak partai menurut seleranya. Ia berhasil melakukannya pada 29 Juli 1921, yang lalu membuat partai ini menjadi radikal dan evolusioner.

Kedua sifat liar tersebut makin menonjol setelah Nazi merangkul pasukan pengejut Sturmabteilung bentukan Hans Ulrich Klintzs ch. Saat dipimpin oleh Ernst Rohm, pasukan ini kerap mengintimidasi, menebar ketakutan, dan melancarakan tindak kekerasan kepada para lawan politiknya. Pada 1921 itu juga Nazi berhasil menguasai seluruh Munich di Bavaria.

Namun, tak seluruh gebrakan berbuah hasil. Mereka pernah menuai bencana tatkala berusaha mengambil alih pidato pimpinan Bavaria, Gustav von Kahr, pada 1923, di Gedung Beer Hall. Gara-gara tampil di podium menyerukan revolusi nasional sambil menembakkan pistol ke atas, otoritas Munich maju dan mengepung Hitler dan teman-temannya. Insiden yang kemudian menewaskan beberapa anggota Nazi ini terkenal dengan sebutan Beer Hall Putsch.

Namun insiden tersebut justru menjadi titik nadir bagi popularitas Hitler dan Nazi. Di dalam penjara, is berhasil menulis buku Mein Kampf, yang kemudian menjadi kitab suci di Jerman.

Propaganda dan cuci otak

Semasa penahanan Hitler, Nazi sempat meredup. Namun, pasca penahanan, popularitas Nazi (setelah dilahirkan kembali pada 1925 ) bisa kembali memuncak terutama setelah Hitler melancarkan propaganda bertajuk Tausendjahriges Reich-nya. Kata “Reich” is cuplik daribukukaranganpenulis konservatif Arthur Moeller van den Bruck pada 1922.

Propaganda ini begitu tajam dan membius. Propaganda ini secara sistematik ditujukan untuk menghancurkan kekuasaan Pemerintah Weimar yang dianggap bertanggung-jawab menandatangani Perjanjian Versailles 1919. Sala satu juru propaganda Nazi yang terkenal saat itu adalah Dr Joseph Goebbels, yang karena kehandalannya mempengaruhi orang lalu diangkat menjadi Menteri Propaganda.

Tentang kebolehannya “mencuci otak”, Goebbels pernah berkata, “Propaganda itu akan diterima dengan baik oleh rakyat manakala disampaikan secara populer sesuai dengan daya serap rakyat dari tingkat intelektual paling rendah sekalipun.”

Untuk menjamin kelanggengan Nazi dan pemerintahannya, dengan trampilnya Hitler menempatkan para loyalis dan orang-orang yang tepat dalam organisasi ini. Orang-orang pilihan ini biasa disebut Gauleiters. Kehadiran mereka makin merasuk ke berbagai lapisan masyarakat terutama setelah Hitler berhasil merebut kekuasaan di Jerman (1932) dan Nazi menjadi partai terbesar di Reichstag atau parlemen. (Lebih jauh tentang loyalis itu, lihat Organisasi Nazi).

MUNICH PUTSCH – Foto ini diambil ketika tragedi Munich Putsch. Tampak kedua dari kid adalah Rudolf Hess. Sementara Heinrich Himmier tampak sedang memegang bendera.

Politik cuci otak Nazi sendiri lazim dikenal dengan sebutan Gleichschaltung, yang dalam bahasa Inggris berarti sinkronisasi. Efektivitas Gleichschaltung menjadi lebih tajam setelah Hitler membentuk kelompok-kelompok pengawasan secara tersegmentasi. Misalnya saja Hitleriugend untuk anak usia 10-18 tahun, Bund Deutchser Madel untuk anak gadis, Kraft durch Freude untuk kaum buruh dan lainnya Langkah ini demi memastikan, kelompokkelompok dimaksud terawasi secara baik dan tidak keluar dari ajaran Nazi.

Proses cuci otak tersebut mulai terasa hasilnya pada tahun 1938. Kala itu unsurunsur legislatif dalam pemerintahan Jerman, mulai dari pusat hingga ke daerah, bisa dikuasai oleh para Gauleiters. Penguasaan sektor-sektor pengambil keputusan ini dilakukan agar semua kebijakan pemimpin Partai Nazi dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Para Gauleiters umumnyabertanggung jawab di daerah dimana dia ditempatkan. Selain Joseph Goebbels (untuk wilayah Berlin), para Gauleiters Nazi yang juga terbilang handal, adalah Franz Ritter von Epp (Bavaria Atas), Julius Streicher (Franconia), Karl Hanke (Silesia Bawah), Adolf Wagner (Bavaria Bawah), Robert Ley (Rhineland Selatan, Baldur von Schirach (Wina), dan Hans Frank (Polandia).

Secara luar biasa mereka bisa menanamkan di benak rakyat Jerman, bahwa Nazi adalah satu-satunya partai politik yang boleh berdiri dan Nazisme adalah satu-satunya ideologi yang hams dianut. Nazi kemudian menyensor seluruh media massa, buku-buku, dan lainnya. Semua hal yang bertentangan segera dimusnahkan. Buku-buku yang tidak seajaran dengan faham Nazisme dibakar. Mereka amat represif terhadap segala hal yang berpotensi menimbulkan pembangkangan. Pengawasan juga dilakukan terhadap pelajaran yang diberikan guru-guru di sekolah. Sebaliknya, mereka memaksakan kecintaan kepada Nazi secara terus menerus. Akibatnya, para siswa tertuntun untuk turut menyensor semua hal yang bertentangan dengan ajaran Nazi.

Politik danindoktrinasi tersebut tentumemakan korban. Selama 12 tahun kekuasaan Nazi, paling tidak tercatat sebanyak 11 juta orang disiksa dan terbunuh.

Mereka umumnya adalah kaum minoritas (Yahudi, Gipsy, Slavia), lawan politik (dari kaum liberal, komunis), dan kaum yang menyimpang (orang cacat, homoseksual). Namun begitu, Hitler dan Nazi sanggup membayar seluruh kepedihan tersebut dengan merealisasikan seluruh janji yang pernah diumbar di muka. Yakni, membangun kembali kejayaan Imperium Jerman Kuno (Holy Roman Empire) yangpemahberkuasa di Eropa sejak abad 18 hingga 1918, dan menaikkanharkat rakyatnya sebagai ras Arya — ras superioritas di dunia.

Dalam 12 tahun kekuasaannya, Nazi dan angkatan perangnya berhasil merebut hampir seluruh wilayah daratan Eropa, kecuali Swiss, Spanyol, Liechtenstein, Swedia, Portugal, Andorra, Vatikan, dan Pegunungan Ural. Namun, mereka talc sanggup mengembangkannya lebih jauh, bahkan hingga seribu tahun yang dicitacitakan itu. Pada tanggal 30 April 1945, setelah pasukan Jerman terdesak hingga ke Berlin, Hitler menyerah dengan cara bunuh diri. Sejak itu, tamatlah seluruh kekuatan Nazi dan proyek Reich Hingga Seribu Tahun (Tausendjahridges Reich)- nya.

Bangkit dan Lahirnya Reich Ketiga, Proses Perjuangan Hitler Mewujudkan Ambisinya


Hitler berjalan mondar mandir gelisah di kamarnya di Hotel Kaiserhof di Reichskanzlerplatz, yang letaknya tidak begitu jauh dari pusat pemerintahan. Di tengah suasana politik yang menegang ketika itu akibat krisis kekuasaan, Adolf Hitler menunggu kabar yang akan menentukan nasibnya dan partai Nazi (Sosialis Nasional) yang is pimpin. Hari Minggu sore 29 Januari 1933 itu Hitler sedang makan kue dan minum kopi bersama beberapa pembantu terdekatnya ketika Hermann Goering, Presiden Reichstag (DPR) yang juga orang keduanya, tergopoh-gopoh masuk ke kamar hotel dengan membawa kabar yang ditunggu-tunggu Hitler.

Goering yang bertubuh subur itu dengan gembira mengabarkan bahwa Senin besok Hitler akan diumumkan sebagai kanselir (PM) yang baru. Semua yang mendengar tampak lega dan memberi selamat kepada Hitler. Esok harinya 30 Januari menjelang tengah hari, Adolf Hitler diantar ke istana (Chancellery) untuk bertemu dengan Presiden Marsekal von Hindenburg yang sudah uzur. Hasil pertemuan itu ternyata men jadi awal perubahan nasib Hitler maupun Jerman dan dunia seluruhnya.Karena hari itu juga Adolf Hitler yang baru berusia 43 tahun, resmi diambil sumpahnya sebagai kanselir Jerman yang baru, dan sejak itu pula lahirlah The Third Reich atau Reich Ketiga ciptaan mantan kopral kelahiran Austria itu. Hitler mengimpikannya akan berusia 1000 tahun!

Anggota SS angkatan pertama yang bertugas sebagai pengawal pribadi Hitler.

Kelahiran Reich Ketiga itu disambut meriah sekali oleh para pendukung Partai Nazi. Malam itu ribuan anggota garda Nazi menyelenggarakan pawai obor secara besarbesaran. Mereka dengan disiplin tinggi seperti militer, berbaris di jalan-jalan dengan iringan genderang serta musik mars militer, melewati Gerbang Brandenburg menuju Wilhelmstrasse, tempat istana kekanseliran Jerman berada.

Dari gedung megah itu, Hitler selaku kanselir baru berdiri tegap menerima penghormatan para pengikutnya, dan berkali-kali tangan kanannya diangkat untuk menyampaikan salam Nazi. Matanya tampak berkaca-kaca, karena impiannya untuk menguasai dan mengubah Jerman sesuai dengan konsepnya benarbenar tercapai hari itu.Dari sebuah jendela di istananya, Presiden Hindenburg juga menyaksikan pesta kemenangan Hitler tersebut tanpa mengetahui persis apa yang akan terjadi terhadap arah dan nasib negerinya di masa mendatang.

Kelahiran Reich Ketiga tersebut bukanlah suatu kejadian yang tiba-tiba, namun merupakan puncak suatu proses yang sudah berjalan lama, menyusul kalahnya Jerman dalam Perang Dunia Pertama yang sering disebut sebagai The Great War. Proses itu terutama diwarnai politik perebutan kekuasaan antara berbagai kelompok kepentingan dan ideologi di negeri yang sedang kacau balau dan tidak memiliki pemerintahan yang kuat berwibawa. Salah satu pemain politik dalam persaingan kekuatan adalah Adolf Hitler, pendiri National Sozialistische Deutsche Arbeiter Partei (NSDAP) atau Partai Pekerja Nasional Sosialis Jerman, biasa disingkat dengan Nazi.

Hitler dan kondisi pasca perang

Adolf Hitler yang dilahirkan di Braunau, Austria, pada 20 April 1889 memang terkenal sebagai orator, jago pidato. Ia mengatakan bahwa kemampuannya berpidato dengan kekuatan vokalnya yang istimewa itu terasah dari kecil, sewaktu ia menjadi anggota paduan suara anak-anak di gereja. Hitler yang berangkat remaja dikenal pemalas meskipun sebetulnya cerdas. Ia tidak suka menerima nasihat atau kritik, namun menuntut teman-teman seusianya untuk tunduk kepadanya. Ketika cukup umur dan harus masuk milisi di Austria, Hitler menghindar dan lari ke Munchen (Munich) di Jerman sampai perang pecah. Ia lalu mendaftar masuk tentara, mencapai pangkat kopral. Sebagai prajurit ia menunjukkan disiplin dan semangat tinggi, sesuatu yang tadinya dia tidak punyai.

ERNST ROHM – Disamping Hitler yang mempunyai sejumlah “keanehan”, orang-orang dilingkungannya seperti Ernst Rohm (kedua dari kiri) ini dikenal sebagai homo seksual dan jago berantem.

Hitler terkena serangan gas di front pada Oktober 1918, menjelang kalahnya Jerman. Ketika ia masih dirawat di front belakang, Jerman pun menyerah dengan harus menanggung beban kekacauan besar di dalam negerinya. Revolusi pecah. Kaisar Wilhelm harus turun takhta. Kekaisaran digantikan oleh Republik Weimar yang lemah dengan Friedrich Ebert sebagai kanselir (perdana menteri) dan kemudian menjadi presiden pertamanya. Sesuai dengan hasil pendiktean pihak yang menang dalam Perjanjian Versailles (1919), maka berbagai pembatasan dikenakan terhadap Jerman pasca PD I, mulai dari penyerahan semua wilayah koloninya. hingga pembatasan kekuatan militernya, seperti tidak  diperbolehkan mempunyai lebih dari 100.000 tentara, dilarang memproduksi tank, kapal selam, pesawat militer, senjata gas dan lain-lain. Jerman merasa dipojokkan dan menghadapi suatu fait accompli, karena kalau menolak maka Sekutu mengancam akan meneruskan aksi militernya.

Banyak ahli sejarah yang berpendapat, bahwa kerasnya persyaratan dalam Perjanjian Versailles terhadap Jerman serta tidak adanya ketegasan terhadap pelanggaran perjanjian itulah yang pada tahun 1930-an menyulut bangkitnya lagi militerisme Jerman, kali ini dipimpin oleh Hitler dengan ideologi Nazinya.

Kondisi Jerman pasca perang menjadi tempat persemaian yang subur bagi tumbuhnya ideologi yang ekstrem kanan maupun kiri. Jerman terpecah-pecah karena pemerintahan republik yang baru tidak efektif. Di Bavaria timbul pemberontakan oleh kaum sosialis dan komunis yang mencita-citakan terjadinya revolusi di Jerman, mengikuti apa yang terjadi di Russia. Pemberontakan itu akhirnya dapat dipadamkan oleh pemerintah pusat yang dibantu Freikorps, suatu organisasi semimiliter yang dibentuk oleh para bekas tentara yang beraliran kanan. Mereka begitu membenci orang-orang kiri dan Yahudi, yang mereka anggap sebagai “pengkhianat” sehingga Jerman kalah dalam PD I. Pasukan sukarela ini berkembang pesat, dan dilatih khusus menirukan pelatihan pasukan khusus Jerman yang dibentuk Jenderal Eric von Ludendorff selama masa perang.

BERLIN RUSUH – Sebuah upaya reyolusi dilakukan oleh kelompok Spartacist, namun dengan mudah digagalkan oleh AD Jerman. Dalam kerusuhan di Berlin tahun 1919 ini. Kerusuhan ini juga melibatkan Freikorps.

Berlainan dengan tradisi serbuan frontal oleh pasukan infanteri dalam jumlah yang besar, maka pasukan khusus ini tugasnya adalah menjadi ujung tombak. Pasukan ini mobilitasnya tinggi dan terlatih secara khusus, sering disebut sebagai batalyon pengejut, Sturmtrupp (Storm Troops) atau Stosstrupp (Shock Troops) . Dari pasukan khusus inilah Freikorps mengambil bentuk dan sifatnya, yang pada gilirannya nanti akan menjadi inspirasi dari terbentuknya milisi Partai Nazi, baik Sturm Abteilung (SA) maupun Schutz Staffel (SS) di kemudian hari.

Sementara itu Hitler sendiri seusai perang bergabung dengan Deutsche Arbeiterpartei (DAP), sebuah partai kecil yang didirikan oleh Anton Dexler, seorang pandai besi bersama dengan Ernst Roehm, seorang petualang, homoseks, dan orang yang tidak kenal kompromi. Di dalam partai pekerja ini, lamunan Hitler yang nasionalistik tersalur karena partai ini menganut paham yang membenci kaum kapitalis Yahudi serta kaum Marxis yang dianggap akan melakukan revolusi ala Lenin untuk mengkomuniskan Jerman menjadi negeri ala Soviet Russia. Karena kemampuannya berpidato yang luar biasa serta didukung ideologinya yang sangat nasionalistik, karier Hitler dalam partai pun berkembang cepat. Ia menarik perhatian banyak orang.

Dexler sendiri posisinya terancam oleh melajunya Hitler dalam partai, sehingga dia yang pernah menjuluki Hitler sebagai “orang kecil yang absurd” akhirnya mengakui posisi dominan Hitler dalam partai. Tidak lama kemudian Hitler pun mendirikan sendiri partai baru sebagai pengganti DAP, yakni NSDAP yang sering disingkat Nazi, National Sozialistische. Hitler berambisi partainya segera berkembang besar, dan ia pun menemukan teman untuk itu, Ernst Roehm, yang bersedia bergabung dengan Nazi karena satuan milisi yang dia bentuk telah dibubarkan oleh pemerintah. Roehm berharap melalui partai ini, ambisinya untuk memimpin pasukan sendiri akan terwujud lagi.

Lahirnya SA dan SS

Dalam waktu singkat, Roehm memperkenalkan Hitler dengan tokohtokoh yang berpengaruh, seperti Jenderal Ludendorff, pahlawan PD I yang dikenal sebagainasionalis sayap kanan. Juga dengan Jenderal Franz Ritter von Epp, komandan Freikorps militer di Munchen. Perkenalan dengan para tokoh membuat Partai Nazi mulaimemperoleh kredibilitas di kalangan masyarakat, sekaligus mendapat dukungan finansial yang diperlukan. Hitler pun berusaha membangun citra partainya dengan membuat lambang-lambang kepartaian seperti Swastika, dan para anggotanya pun berseragam bak kaum militer. Hitler dengan kemampuannya sebagai orator terus menerus berkampanye, membangun semangat patriotisme kejermanan dengan menghasut anggotanya untuk melawan kaum sayap kiri seperti komunis dan sosial demokrat, disamping terhadap kaum kapitalis Yahudi. Konfrontasi fisik pun sering terjadi dengan musuh-musuh politik Partai Nazi.

BROWN SHIRT S – Seragam coklat SA Obergruppenfuhrer (Jenderal) Wilhelm Helfer yang dipenuhi tanda penghargaan. Seragam ini digunakan sejak 1924. Di kantong kiri bisa dilihat Black Wound Badge (kiri), War Merit Cross in Silver, 1931 Brunswick Rally Badge (kanan) dan NSDAP Gold Party Badge of Honour

Sementara itu Roehm juga membangun kekuatan di dalam partai, berupa pasukan keamanan yang tugasnya semula mengawal Hitler dan tokoh-tokoh Nazi manakala berpidato di depan umum. Satuan pengamanan ini terdiri dari bekas tentara yang menganggur serta para tukang pukul. Mereka berseragam warna coklat, sehingga terkenal dengan sebutan Barisan Kemeja Coklat atau Brownshirts meskipun sebutan resminya adalah Sturmabteilung (SA’. Detasemen ini makin lama makin besar dan kuat, serta menjadi garda terdepan Partai Nazi. Hitler dan kawan-kawannya pun makin percaya diri.

Uji coba pertama melawan musuh politiknya terjadi di kota Coburg pada tanggal 14-15 Oktober 1922. Pada hari itu Hitler diundang ke Coburg untuk berpidato. Ini merupakan kesempatan yang sudah lama ditunggu-tunggunya. Maka is pun menyewa kereta api, dan rombongannya yang besar berangkat dari Munchen menuju kota yang dikuasai kaum Marxis tersebut. Sebagian besar rombongan Nazi ini adalah dari anggota SA, dilengkapi dengan barisan musik segala. Mereka betul-betul fanatik dan tidak gentar untuk masuk ke wilayah lawannya. Benar saja, perarakan kaum Nazi itu dilarang ke pusat kota apabila mereka tetap mengibarkan bendera partai dan musik. Kaum Marxis menghadang, dan perkelahian pun tidak terhindarkan. Namun aneh, banyak di antara penduduk kota itu yang malah bergabung dengan barisan Nazi, dan perarakan jalan terus.

pidato di Balai Kota Coburg, yang oleh banyak orang dianggap sebagai salah satu kemenangan awal Hitler. Malam harinya barisan SA terlibat lagi dalam pertarungan dengan kelompok Marxis. Esok paginya kaum komunis berniat mengusir Hitler dan partainya dari Coburg dengan mengerahkan ribuan massanya. Tetapi yang muncul ternyata sedikit dan sebaliknya yang mengelu-elukan Hitler dan rombongan besarnya semakin banyak. Hitler telah memenangkan pertarungan pertamanya yang menentukan, dan sejak itu perkembangan Partai Nazi semakin cepat. Bulan Januari 1923 di bawah slogan Deutschland Erwache atau Jerman Bangkit, diselenggarakanlah apel besar Partai Nazi di Munchen. Di sini Hitler memproklamasikan bahwa Swastika akan menjadi lambang nasional Jerman masa depan. Dengan demikian hal itu menunjukkan betapa dia telah mempunyai rencana mengenai kekuasaan di kemudian hari.

Dalam perjalanan selanjutnya, Hitler merasakan kebutuhan untuk mempunyai pasukan pengawal pribadi, mengingat semakin kerasnya persaingan politik di Jerman pada masa itu sehingga membahayakan keamanan para pelakunya. Hitler menghendaki, barisan pengawal ini jumlahnya tidak perlu banyak-banyak, namun harus terdiri dari mereka yang telah terbukti kemampuannya, berdarah Eropa Utara (Nordic), serta punya karakter kuat. Mereka berfungsi sebagai pengawal pribadi dengan kesetiaan sepenuhnya kepada Hitler. Selain melindungi Hitler, mereka jugs menjaga para tokoh Partai Nazi lainnya.

Hitler bersama Presiden Hindenburg.

Bulan Maret 1923, embrio dari pasukan pengawal pribadi ini mulai terbentuk dengan dua orang, Josef Berchtold dan Julius Schreck. Mereka mem-
bentuk unit pengawal yang dinamakan Stosstruppe Adolf Hitler. Pada Agustus 1923 Heinrich Himmler bergabung dengan NSDAP. Pasukan pengawal pribadi ini berkembang cepat meskipun sudah ada SA pimpinan Roehm.

Namun barisan Kemeja Coklat ini dianggap lebih bermanfaat untuk bertarung di lapangan melawan barisan musuh politik Nazi. Selain itu karena ba-
nyak dari anggota SA berasal dari Freikorps yang sangat terbiasa hanya loyal kepada atasan langsung, maka dalam kenyataannya mereka pun lebih terikat kepada Ernst Roehm dan bukan kepada Hitler. Karena itulah untuk kepentingan jangka panjang, Hitler menganggap SA tidak mungkin dijadikan sandaran utamanya. Karena itulah dia membentuk pasukan pengawal yang hanya loyal kepadanya. Dalam perkembangannya, pasukan inilah yang disebut Schutzstaffel (SS), atau satuan pertahanan, defence squad, yang nantinya dipimpin oleh Himmler.

Putsch, usaha merebut kekuasaan

Setelah melihat kesukses an dalam membangun partaihya, Adolf Hitler menjadi kian bernafsu untuk menjajal kekuatannya terhadap pemerintah negara bagian Bavaria. Rupanya dia terpengaruh oleh Benito Mussolini yang pada Oktober 1922 berhasil mengambil alih kekuasaan di Italia dengan memimpin partai fasisnya masuk ke kota Roma. Kalau Mussolini berhasil, maka dia pun harus juga berhasil. Kondisi di Jerman kala itu tampaknya memang memungkinkan perebutan kekuasaan, karena pemerintahan Republik Weimar begitu lemah, negara Jerman hampir bangkrut akibat resesi, dan konflik antar ideologi kepartaian semakin meruncing. Kaum komunis dengan para pemimpinnya seperti Karl Liebknecht, Rosa Luxemburg, Wilhelm Pieck dan lainlainnya juga terus beragitasi dengan tujuan merebut kekuasaan.

PASUKAN KHUSUS – Strum Abteilung (SA) melakukan defile di War memorial di Munich tahun 1923. Kelahiran SA terinspirasi dari pasukan khusus Freikorps. Termasuk juga menginspirasi milisi Partai Nazi maupun Schutz Staffel (SS) di kemudian hari. Jika mau dirunut lagi, biang awalnya adalah Sturmtrupp atau Stosstrupp.

Usaha kaum komunis untuk berontak di Hamburg dapat digagalkan oleh Reichswehr, militer reguler Jerman bentukan setelah perang. Militer juga berhasil mengalahkan kaum komunis di negara bagian Saxony dan Thuringia, sehingga sebetulnya tak ada alasan lagi bagi Nazi untuk merebut kekuasaan dengan berdalih untuk melawan kaum komunis. Sementara itu pasukan Freikorps yang beraliran kanan garis keras secara brutal juga menghabisi banyak kaum kiri, termasuk menangkap, menyiksa, dan membunuh dua pemimpin komunis, yaitu Liebknecht dan Rosa Luxemburg. Namun niat Hitler untuk merebut kekuasaan tidak dapat diubah lagi. Ia ingin membuktikan bahwa Partai Nazi sudah mampu untuk melakukan sesuatu yang lebih besar lagi.

Pada 9 November 1923, pemimpin pemerintahan Bavaria, Gustav von Kahr akan berpidato di sebuah gedung tempat minum bir (Beer Hall) di Munchen atau Munich. Kahr sebetulnya simpati ke sayap kanan, dan Hitler berusaha merekrutnya, namun Kahr menolak. Tanpa diketahui, Hitler dan beberapa pembantu terdekatnya seperti Max’Amann, Alfred Rosenberg dan Ulrich Graf mengambil posisi di aula besar tempat Kahrberpidato. Tak lama kemudian sekitar 25 anggota SA (Kemeja Coklat) dipimpin oleh ace, pahlawan perang udara Jerman dalam PD I, Hermann Goering memasuki aula. Hitler lalu naik ke atas meja, menembakkan pistol ke atas, dan berteriak bahwa “Revolusi Nasional telah dimulai. Pemerintah Bavaria dan Reich telah disingkirkan, dan Pemerintah Nasional sementara telah dibentuk !”

Publik tidak tahu bahwa yang diteriakkan Hitler itu hanyalah gertak sambal, bluff, belaka. Tiga tokoh pemerintahan Bavaria, Kahr, Jenderal Otto von Lossow dan Kol. Hans von Seisser dimasukkan ke sebuah ruangan, dan di situ Hitler mengharuskan mereka bergabung dengan pemerintahan baru yang akan dipimpin Jenderal Ludendorff. Hitler sengaj a mencatut nama Ludendorff, tetapi dengan keyakinan bahwa ienderal ini akan setuju dengannya.

Sementara itu di luar gedung timbul perselisihan antara barisan Kemeja Coklat dengan sekelompok militer Hitler keluar untuk menyelesaikan, diikuti oleh semua orang yang meninggalkan aula, termasuk ketiga sandera tadi.

Jenderal Lossow kembali ke markasnya dan mengumpulkan pasukannya, sementara Kahr mengecam keras usaha perebutan kekuasaan oleh Hitler dan partainya. Di pihak lain Ludendorff yang sudah tertarik kepada gerakan Hitler, menyarankan agar Hitler meneruskan usaha perebutan kekuasaan yang dikenal dengan sebutan Munich Beer Hall Putsch atau kudeta Munich. Hitler mengumpulkan sekitar 2000 pengikutnya, dan mengadakan pawai besar.

Ia berjalan di barisan depan bersama Ludendorff serta para tokoh Partai Nazi. Barisan dengan berbagai panji-panji kebesaran Nazi ini selain dikawal oleh pasukan Kemeja Coklat, juga oleh barisan eks-Freikorps yang setelah bergabung dengan Nazi kini memakai nama Bund Oberland, serta ratusan pengawal pribadi Hitler yang memakai topi baja dan bersenjata senapan serta granat. Para peserta lainnya mengenakan berbagai seragam masing-masing, seperti para pekerja, kadet dari sekolah infanteri dan lain-lain. Yang menyatukan mereka adalah lambang swastika yang diikatkan di lengan kiri.

Namun barisantersebut dihadangpolisi bersenjata, dan konfrontasi serta kekerasan tidak terhindarkan. Tembak menembak terjadi. Beberapa rekan dekat Hitler terjatuh terkena tembakan, dan pengawal pribadinya Ulrich Graf melindungi Hitler dengan tubuhnya. Ia terkena sejumlah peluru. Begitu pula ajudan Ludendorff yang berusaha melindungi pemimpinnya, tewas terkena

tembakan. Ketika tembak menembak berhenti, 18 orang terkapar mati di jalan termasuk beberapa polisi. Barisan Nazi yang di belakang mendengar desas-desus bahwa Ludendorff dan Hitler mati. Mereka pun panik dan bubar melarikan diri. Hitler sendiri yang terkilir bahunya, diungsikan ke tempat aman oleh seorang dokter muda anggota SA, Dr Walther Schultze, yang di kemudian hari akan memimpin organisasi guru pada Reich Ketiga. Goering yang juga terluka, dilarikan dengan mobil oleh istrinya, Karin, menyeberangi perbatasan ke Austria, sementara Roehm yang terkepung polisi terpaksa menyerah.

Usaha Putsch itu pun gagal. Para pemimpin Partai Nazi ditangkap. Sekalipun demikian orang seperti Hitler menganggap kegagalan itu tetap merupakan kemenangan karena telah menciptakan “martir-martir” yang diperlukannya untuk propaganda. Panji-panji partai yang dibubuhi darah korban, dijadikan ikon partai. Selain itu, peristiwa di gedung bir Munich itu telah melontarkan nama Hitler ke kancah politik tingkat nasional. Namun di pihak lain pemerintah bersikap keras. Partai Hitler, NSDAP dibubarkan dan pemerintah mengancam akan menghukum berat siapa pun yang mencoba melanjutkan kegiatan partai ini.

Menulis Mein Kampf di penjara

Hitler ditangkap dua hari setelah kudeta yang gagal, lalu ditahan di Penjara Landsberg. Ia dimasukkan ke sel no. 7 yang memungkinkan adanya penjaga di ruang khusus sebelah selnya. Pada bulan Februari 1924, sidang pengadilan mulai digelar untuk mengadili mereka yang terlibat dalam usaha Putsch yang gagal. Tuduhannya berat, karena mereka dianggap melakukan makar dan pengkhianatan. Perhatian semua orang di Jerman tertuju ke Munich.

FOLKLORE – Sekumpulan pria berseragam coklat berkumpul di sebuah warung kopi di Munich pada tahun 1920. Sambil meminum bir, mereka membicarakan rencana memerangi kelompok komunis yang mulai berkembang pesat di Jerman. Kejadian ini belakangan hari menjadi “cerita rakyat” di Partai Nazi.

Tetapi dari awal, tampaknya keuntungan akan berada di tangan para terdakwa karena adanya dukungan publik mengingat di antara yang diadili adalah pahlawan perang mereka seperti Ludendorff. Selain itu menteri kehakiman kala itu, Franz Gurtner secara terbuka menunjukkan simpatinya terhadap perjuangan Partai Nazi, sedangkan hakimnya, Georg Neithardt kebetulan adalah seorang yang sangat nasionalistik. Ia menganggap tokoh seperti Ludendorff adalah aset nasional yang harus dibela dan dijaga.

Dalam persidangan, Hitler yang piawai dalam berpidato, melakukan pembelaan din dengan cemerlang. Dengan pembelaannya itu, ia pun menang dalam berpropaganda baik untuk kepentingan partainya maupun untuk dirinya sendiri yang terancam hukuman berat. Akhirnya vonis pun dijatuhkan, dan ternyata hukumannya cukup ringan, tidak sebanding dengan tuduhan makar dan pengkhianatan. Ludendorff dibebaskan,. sedangkan Hitler dipenjarakan di Landsberg bersama-sama tokoh partai lainnya seperti Goering, Rudolf Hess, dan lain-lainnya. Hukuman untuk Hitler adalah lima tahun penjara, dengan catatan sesudah enam bulan ada kemungkinan memperoleh keringanan. Dalam kenyataannya, Hitler hanya menghuni Landsberg selama sembilan bulan saja, karena ia lalu dibebaskan.

Di dalam penjara itu, Adolf Hitler diperlakukan seolah-olah tamu istimewa. Ia mendapat kamar yang bagus, dengan pemandangan keluar yang menawan. Di situ ia banyak menerima tamu yang membawakan hadiah-hadiah baginya. Di ruang penjara ini pula dia menulis buku yang akan menjadi pegangan Partai Nazi, yaitu Mein Kampf atau Perjuanganku. Naskah buku ini dia buat dengan mendiktekannya kepada Hess yang di dalam penjara bertindak sebagai sekretarisnya. Semula naskah ini diberinya judul panjang Empat Setengah Tahun Perjuangan Melawan Kedustaan, Kebodohan, dan Kepengecutan. Dalam buku ini Hitler merangkaikan impian-impian politik yang dianutnya dengan teguh.

Oleh asistennya yang lain, Max Amann, naskah tersebut diubah judulnya menjadi Mein Kampf dan dicetak serta diterbitkan. Hasil penjualan buku itulah yang menjadi sumber pendapatan bagi Hitler mulai tahun 1925 Amann menyatakan buku ini laris manis, namun dari dokumen yang kemudian terungkap terlihat hasil penjualannya tidaklah besar. Tahun-tahun pertama, setiap tahunnya rata-rata hanya terjual sekitar 5-6 ribu eksemplar. Menjelang Hitler berkuasa awal 1930′an, penjualan meningkat mencapai puluhan ribu. Tetapi baru setelah Hitler menjadi kanselir maka Mein Kampf terjual sampai jutaan kopi. Hitler pun kaya raya dari hasil royalti bukunya, dan untuk pertama kalinya dia pun menjadi jutawan.

Dalam masa kekuasaan Nazi, kecuali Kitab Injil, maka tak ada buku lain yang terjual begitu banyak. Hampir setiap rumah tangga di Jerman seolah-olah wajib memiliki buku Hitler itu. Hadiah perkawinan dan kelulusan sekolah pun berupa Mein Kampf, yang telah dianggap sebagai kitab   suci kaum Nazi.

Superioritas ras

Menurut sejarawan William L. Shirer dalam bukunya yang terkenalThe Rise and Fall of the Third Reich, tatkala meninggalkan tanah kelahirannya Austria pada tahun 1913, Hitler muda yang berusia 24 tahun telah memiliki rasa nasionalisme Jerman yang membara dalam hatinya. Sekaligus ia pun amat membenci demokrasi, Marxisme dan Yahudi. Dia yakin bahwa Sang Pencipta telah memilih bangsa Arya, terutama Jerman, untuk menjadi ras penguasa di dunia ini.

Sambil mengacungkan tangan dan meneriakan Heil Hitler, Rohm meneruskan pemeriksaan pasukan SA. Pria di sampingnya adalah “kekasih” Rohm. la terbunuh pada insiden Night of the Long Knives.

Kemudian dalam refleksi dan impiannya yang dituangkan dalam Mein Kampf, Hitler memperluas pandangannya. Bukan hanya bagaimana membangun lagi Jerman dari kekalahan, namun bagaimana membuat suatu negara/Reich Jerman baru berdasarkan ras yang juga meliputi seluruh bangsa Jerman yang berada di luar perbatasan Jerman atau Reich.

Kepemimpinan negara ini harus diJalankan oleh seorang Pemimpin, Fuehrer, yang tak lain adalah dirinya sendiri. Fuehrerprinzip ini adalah sistem kediktatoran karena Hitler menganggap demokrasi hanyalah omong kosong belaka. “Tidak boleh ada keputusan mayoritas. Keputusan hanya oleh orang-orang yang bertanggung jawab…Setiap orang dalam hidupnya tentu punya penasihat di sisinya, namunkeputusan akan dibuat hanya oleh satu orang. Hanya dia sendirilah yang memiliki wewenang dan hak untuk memerintahkan…” demikian Adolf Hitler menggambarkan kekuasaan kediktatoran yang dicitakannya dalam Mein Kampf.

Hitler telah menggambarkan betapa Jerman nantinya harus menjadi “tuan di bumi ini”, lord of the earth. Untuk itu suatu konsep hidup atau menurut istilah favorit Hitler Weltanschauung, juga dimasukkan dalam Mein Kampf. Anehnya, jutaan orang Jerman secara fanatik mempercayai konsep Hitler itu dengan segala konsekuensinya. Mereka percaya bahwa Reich Ketiga harus dibangun berdasarkan konsep keunggulan ras kearyaan yang mereka miliki.

Weltanschauung Hitler oleh banyak sejarawan dilihat sebagai Darwinisme dalam bentuknya yang kasar. Namun hal ini sebetulnya juga berakar dalam sejarah serta pemikiran para filsuf serta negarawan Jerman, bahwa kehidupan itu merupakan perjuangan tanpa henti dan dunia ini merupakan hutan di mana yang terulet akan selamat dan yang terkuat akan menguasai.

Dalam bukunya itu Hitler memang lebih mementingkan soal kekuasaan politik, sedangkan bidang ekonomi menurutnya bukanlah urusan negara dan harus dapat mengatur dirinya sendiri. Negara adalah organisme rasial dan bukanlah organisasi keekonomian. Ia yakin ekonomi barulah jalan apabila dituntun dengan pedang dan kekuatan.

Buku Mein Kampf karya Hitler ketika di penjara dan kemudian menjadi kitab suci kaum Naz

Mengenai hubungan keluar, maka sejak awal Hitler telah menunjuk Prancis sebagai penghalang pertama yang harus disingkirkan lewat suaru perjuangan yang menentukan. Ia menyebut Prancis sebagai musuh bebuyutan, mortal enemy, dari bangsa Jerman. Jika Prancis telah dihancurkan, maka barulah bangsa Jerman dapat melakukan ekspansi ke mana pun. Dalam kaitan ini, Hitler terus terang dalam Mein Kampf telah menggariskan bahwa Jerman hams berekspansi ke Timur dengan mengorbankan Rusia.

Ia memandang bangsa Rusia dan bangsa-bangsa Slavia lainnya sebagai bangsa dari ras yang rendah kelasnya. Lebensraum atau ruang hidup benar-benar menjadi obsesinya sampai saat terakhirnya. Ia menyalahkan Jerman masa lalu yang berekspansi jauh ke koloni-koloni di Afrika atau Pasifik. Hitler menegaskan politik teritorial haruslah di Eropa sendiri, dan sekalipun semuanya telah terisi banyak negara, namun akhirnya yang berhak menguasai hanyalah bangsa yang memiliki kekuatan untuk memaksakan kekuasaannya.

Hitler bermimpi bahwa hanya dengan kecukupan ruang untuk hidup, maka terjaminlah suatu bangsa untuk bebas bereksistensi. Untuk itu Partai Nazi harus punya keberanian memimpin bangsa Jerman untuk terus maju sepanjang jalan, yang akan membawa mereka dari ruang hidupnya yang terbatas sekarang ke tanah yang baru, yang akan menjadi sumber pangan maupun basis kekuatan politik. Tanah baru itu ditakdirkan menjadi milik Jerman, demikian Hitler.

“Jika kita bicara soal tanah di Eropa sekarang, maka dalam pikiran kita terutama hanyalah Rusia dan negaranegara vasalnya di perbatasannya,” demikian Hitler dalam bukunya. Dan berdasarkan impiannya itulah maka Jerman Nazi dengan gampangnya mela kukan Anschluss atau pencaplokan serta agresi ke negara-negara lain di sekitarnya.

Partai Nazi hidup lagi

Selama Hitler dan teman-temannya pimpinan Nazi dijebloskan dalam penjara dan partainya, NSDAP, dibubarkan pemerintah, maka tercerai berailah para anggotanya. Tetapi seorang Nazi dan pengikut Hitler yang fanatik, Julius Streicher, diam-diam tetap berusaha memelihara mereka yang masih dapat disatukan. Agar terhindar dari ancaman hukum, dia mendirikan partai baru, bayangan dari NSDAP, yakni VolkischerFreiheits-Bewegung (VFB) dan menerbitkan koran Der Sturmer yang terus melakukan kampanye anti-Yahudi. Pembenci Yahudi ini bahkan “menemukan” bahwa Yesus bukanlah orang Yahudi. Streicher yang juga menjadi guru, selalu memaksa para muridnya menghormatinya dengan salam : “Heil Hitler !” Salam ini pula yang merupakan teriakan terakhirnya sebelum digantung di penjara Nurenberg sesudah PD II selesai.

Keadaan cerai berainya Nazi tidak berlangsung lama, karena lima hari menjelang Natal 1924 Hitler dibebaskan dari penjara. Ia mendapati partainya telah tiada dan dia sendiri terancam akan dideportasi ke Austria. Sementara itu kondisi Jerman yang tadinya berantakan hampir bangkrut, kini mulai membaik setelah Dr Hjalmar Schacht berhasil menghentikan inflasi dan membuat ekonomi negerinya normal kembali. Modal dari luar negeri, terutama dari Amerika mulai masuk. Prancis juga mulai meninggalkan wilayah industri di Ruhr yang didudukinya.

Untuk pertama kalinya semenjak akhir perang, rakyat Jerman mulai merasakan kehidupan yang normal. Banyak orang di Jerman maupun negara lain melihat Naziisme sudah sekarat, tidak lagi dibutuhkan oleh suatu negara yang sedang • bergerak ke arah positif. Namun Adolf Hitler tidaklah terpengaruh. Ia memang orang yang keras kepala dan tidak mudah patah.

Hitler menunggu kesempatannya I dengan sabar di apartemen dua kamarnya di Munich. Ia yakin bahwa keadaan yang berangsur pulih itu tidak akan berlangsung lama, karena kestabilan ekonomi Jerman waktu itu dilihatnya terlalu bergantung pada luar, terutama modal dari Amerika. Pada Januari 1925, pembubaran Partai Nazi dicabut resmi, dan bulan berikutnya 27 Februari Adolf Hitler sudah tampil lagi berpidato di depan partainya. Dengan hidupnya kembali NSDAP, maka VFB bentukan Streicher dapat dibubarkan. Agenda Hitler yang baru jelas, yakni selain menguasai lagi sepenuhnya Partai Nazi, dia juga akan mengubah strategi perjuangannya. Dari cara keras termasuk merebut kekuasaan dengan kekerasan, digantinya dengan perjuangan secara konstitusional.

Kepada pengikutnya ia meminta mereka berjuang agar dapat masuk ke Reichstag atau parlemen lewat pemilu, terutama untuk melawan wakil-wakil dari Partai Katolik dan kaum Marxis. “Setiap proses perjuangan berdasar hukum tentu lambat jalannya….tetapi cepat atau lambat kita akan mencapai mayoritas….,dan sesudah itu Jerman akan di tangan kita,” kata Hitler kepada seorang temannya ketika masih di penjara April 1925 ia memerintahkan sopirnya, Julius Schreck dan para anggota pengawal pribadi Stosstruppe Adolf Hitler unuk membentuk pasukan pengawal baru yang dinamakan Schutzstaff el atau terkenal dengan singkatannya SS.

Pada awalnya SS ini hanya terdiri dari delapan anggota,  kebanyakan pernah menjadi anggota Stosstruppe AH. Tetapi Schreck merancang untuk membentuk SS sampai meliputi semua wilayah di Jerman. Programnya berhasil, dan pasukan SS yang setiap anggotanyabersumpah loyal kepada Adolf Hitler terbentuk secara nasional pada tahun 1926. Tahun itu mantan komandan Stosstruppe AH, Josef Berchtold kembali dari pengasingan di Austria dan memimpin SS. Hitler juga mengumumkan. bahwa SS menjadi organisasi elitnya dan diberi panji-panji terhormat Nazi, Deutschland Erwache.

Hitler terus melakukan konsolidasi partai dan merekrut pengikut seperti Gregor Strasser, Himmler, Josef Goebbels dan lain-lainnya. Sementara itu barisan Kemeja Coklat (SA, Sturmabteilung) yang kini dipimpin Franz Pfeffer von Solomon juga berkembang lagi, sehingga pada tahun 1930 anggotanya berjumlah 60.000 orang. Pendiri SA, Ernst Roehm menginginkan para anggotanya nantinya dapat terserap masuk tentara reguler Jerman. Semakin merasa kuat, maka elemen politik di dalam SA pun mulai berani menuntut suara dalam partai induknya, NSPAD, bahkan ikut mengajukan kandidat untuk pemilihan Reichstag atau DPR.

Hitler pun mulai waswas terhadap sikap SA yang rupanya dapat dukungan diamdiam dari pimpinannya. Sementara itu SS tetap loyal sepenuhnya kepada Hitler.

Meraih kekuasaan

Dalam usaha mempopulerkan gerakan Nazi, Hitler menunjuk Dr Goebbels sebagai kepala propaganda partai, dan agitasipolitik pun dia lancarkan. Slogan seperti “Jerman Bangkit”, “Yahudi, Kesialan Kita”, “Senjata Gantikan Mentega”, “Darah dan Tanah”, “Rakyat Tanpa Ruang Hidup” dan sebagainya disebarluhskan. Namun dalam pemilu 1928, Partai Nazi belum berhasil mencapai apa yang diinginkan. Mereka hanya memperoleh 12 dari 491 kursi yang diperebutkan. Setahun kemudian kondisi mulai berbalik setelah kalangan industri besar mulai menyokong Partai Nazi yang programnya dianggap menguntungkan mereka. Bahkan tokoh seperti Hjalmar Schacht, Presiden Reichsbank yang menolak pembayaran ganti rugi perang, juga bersimpati terhadap program Partai Nazi.

Sementara itu di kalangan SA timbul keributan internal, dan Hitler pun memanggil pulang Roehm yang sejak beberapa waktu berada di Bolivia menjadi penasihat kemiliteran negara tersebut. Ia diminta memimpin SA lagi. Tahun 1930 dalam pemilu parlemen, Partai Nazi berhasil menjadi partai terbesar kedua dengan meraih 107 kursi, sedangkan Sosial Demokrat masih unggul dengan 143 kursi. Melihat hasil yang menggembirakan itu, Adolf Hitler semakin yakin waktunya untuk berkuasa kian dekat. Ia terus melakukan konsolidasi partai dan berkampanye ke seluruh pelosok Jerman, terutama untuk menghadapi pemilu 1932. Kepopulerannya juga kian meningkat di kalangan rakyat Jerman.

Buku Mein Kampf semakin banyak dibeli orang, yang membuat Hitler semakin mampu membiayai kegiatan politiknya, sementara kondisi ekonomi Jerman mengalami masa krisis dengan masalah deflasi serta pengangguran. Akibatnya program-program yang dipropagandakan Hitler, Goebels, dan para tokoh Nazi lainnya semakin mem peroleh simpati rakyat Jerman.

Di lingkungan Nazi sendiri, persaingan antara SA dengan SS semakin terasa. Himmler yang memimpin SS berhasil semakin menjauhkan SS dari SA, sedangkan pihak tentara resmi yang melihat SA sebagai pesaingnya, cenderung lebih dekat dengan SS. Dibanding partai politik lainnya, maka jelas disiplin di kalangan Nazi jauh lebih kuat, apalagi mereka merupakan partai yang anggotanya paling beratribut kemiliteran, bails seragam, sikap, maupun kekerasannya. Lawan politik Nazi, seperti Kanselir Heinrich Bruening misalnya pada pertengahan 1932 mencoba membubarkan SA dan SS, dengan dalih larangan bagi partai politik memakai seragam seperti tentara.

Larangan itu terlambat, karena segera setelah itu berlangsunglah pemilihan Reichstag, yaitu pada Juli 1932. Hasilnya menunjukkan sukses luar biasa bagi Partai Nazi, karena tidak kurang dari 13.732.779 suara memilih NSDAP. Partai ini merebut 230 kursi parlemen dan Hitler sebagai pimpinan partai langsung menuntut kedudukan sebagai kanselir atau perdana menteri.

Ia juga meminta disahkannya UU yang memungkinkannya memerintah Jerman dengan dekrit. Tetapi kedua tuntutan Hitler itu ditolak oleh Presiden Hindenburg. Tetapi pada pemilu susulan akhir 1932, jumlah suara yang mendukung Nazi merosot dua juta suara, sehingga kursinya tinggal 196, sementara pihak komunis berhasil menduduki 100 kursi.

Kondisi politik Jerman semakin tegang. Di lapangan sering terjadi bentrokan yang makan korban jiwa. Milisi kaum sosialis dan komunis berhadapan dengan SA dan SS. Hitler menilai kondisi seperti ini justru menguntungkan, karena merupakan bukti betapa negara akan tergelincir dalam keanarkian, sehingga memerrlukan pimpinan negara yang kuat.

Akhir 1932, Jenderal Kurt von Schleicher menjadi kanselir tatkala depresi ekonomi sedang mencapai puncaknya. Schleicher yang sebelumnya adalah menteri pertahanan di bawah Kanselir Franz von Papen, diketahui melakukan intrik untuk menggulingkan von Papen. Tentu saja von Papen ingin membalas, dan is pun mendekati Hitler. Mereka bertemu di Cologne dan mencapai konsensus untuk saling membantu menjatuhkan Schleicher, yang sebelumnya telah berusaha memecah belah Nazi dengan mengajak deputi Hitler, Gregor Strasser, untuk bergabung dalam kabinet Schleicher.

Benar saja, Schleicher hanya bertahan 57 hari sebagai kanselir karena dalam upayanya merebut hati buruh, dia mengorbankan kepentingan kaum industrialis dan para pemilik tanah pertanian. Schleicher minta Hindenburg untuk membubarkan Reichstag, namun ditolak. Maka dia pun menyerah, dan 28 Januari 1933 dia menghadap Hindenburg lagi, menyampaikan pengunduran dirinya. Kini tinggal dua tokoh, von Papen atau Hitler yang akan diminta Hindenburg menyusun pemerintahan baru. Berbagai intrik politik muncul. Hindenburg sendiri pernah mengatakan dia tidak berniat menunjuk “kopral Austria itu” (Hitler) untuk menjadi kanselir.

Namun kenyataan sejarah menunjukkan, esok harinya 29 Januari Hitler dipanggil ke istana presiden dan dilantik sebagai kanselir Jerman yang baru. Rupanya Presiden Hindenburg berubah pikiran setelah mendapat desakan dari Franz von Papen, yang mengharapkan menjadi wakil kanselir apabila Hitler menjadi kanselir. Selain itu, putra Hindenburg, Oskar, iuga dipercaya terlibat dalam mempengaruhi ayahnya. Karena seminggu sebelumnya dia bertemu diam-diam dengan Hitler. Tahun 1934, Oskar yang dalam ketentaraan berpangkat kolonel, tiba-tiba melompat menjadi mayor jenderal. Presiden Hindenburg sendiri meninggal dunia karena sakit tua pada 2 Agustus 1934, sehingga Hitler benar-benar menjadi penguasa tunggal Jerman.

Jerman dinazikan

Begitu Hitler menjadi kanselir, maka tanpa membuang waktu dia pun mulai mewujudkan program impiannya, menazikan seluruh Jerman ! Langkah pertamanya adalah membersihkan musuh politiknya, balk kaum komunis maupun kelompok lain yang menuntut pemerintahan yang demokratis, seperti Partai Tengah yang katolik. Banyak pejabat yang diganti oleh orang-orang Nazi, terutama dari kalangan SA dan SS. Pembersihan itu  dilakukan secara kejam dan cepat, terutama setelah gedung Reichstag ludes terbakar pada 27 Februari 1933. Siapa yang membakar tidak jelas, namun kambing hitam mudah dicari. Seorang muda Belanda, Van der Lubbe dikambinghitamkan dan dihukum pancung, sementara pemburuan terhadap kaum kiri ditingkatkan.

SWASTIKA – Joseph Goebbels terlihat berdiri sambil mengumumkan Anschluss kepada para pemimpin Nazi dalam bulan Maret 1938. Yang paling menonjol di ruang rapat ini adlaha, dimana-mana terpajang lambang kebesaran Nazi yaitu Swastika. Dalam waktu singkat, Swastika menyebar di sejumlah negara di Eropa yang berhasil diduduki Hitler.

Politik teror yang dijalankan pemerintahan Nazi itu didukung oleh berbagai undang-undang yang sengaja dibuat Nazi untuk kepentingannya sendiri. Mulai 23 maret 1933, Hitler benar-benar telah menjadi diktator dari Reich Ketiga dengan disahkannya UU yang isinya antara lain memberi kewenangan kepada kanselir menyusun UU atau peraturan yang tidak hams sejalan dengan konstitusi. Persetujuan parlemen pun tidak diperlukan.
Mesin pemerintahan Nazi ditambah propagandanya yang dipimpin Goebbels terns menazikan Jerman. Tentara reguler Jerman pun tidak berdaya dan sesudahmeninggalnya Hindenburg, mereka harus menyatakan sumpah setia kepada Hitler pribadi. Hal itu dimungkinkan antara lain karena Hitler berhasil mengambil hati militer dengan rencananya untuk membangun kembali kekuatan militer Jerman dengan melanggar Perjanjian Versailles 1919. Perjanjianini telah membelenggu Jerman dan dianggap membuatnya sebagai “paria” di Eropa.

Di bawah Hitler, untuk pertama kalinya pula dalam Reich Ketiga ini Jerman benarbenar disatukan. Karakter federasinya dihapuskan, sesuatu yang dalam Reich Kedua pimpinan Otto von Bismarck pun tetap dip ertahankan. Sekarang semua kekuasaan terpusat di tangan satu orang diktator. Partai-partai politik yang tak setuju dengan Nazi seperti Partai Tengah, Sosial Demokrat dan lain-lainnya dibubarkan atau membubarkan diri. Sedang yang jelas ideologinya berlawanan, ditindas habis-habisan. Untuk itu dibentuklah polisi rahasia Geheime Staats Polizei (Gestapo) yang dengan bengis dan sadis membersihkan siapa pun yang dianggap tidak bersahabat dengan Nazi.

Sementara itu konflik lama antara Hitler denganbos SA, Ernst Roehm muncul lagi tahun 1934. Roehm yang meyakini bahwa revolusi Nazi harus berlanjut, menyarankan agar pasukan SA, Kemeja Coklat, yang dia bentuk dapat dijadikan tentara Nazi yang resmi, menggantikan angkatan bersenjata reguler yang resmi. Hitler yang sudah di puncak kekuasaan tidak setuju. Ia tidak mau bermusuhan dengan angkatan bersenjata atau elit konservatif yang telah mendukungnya ke kekuasaan. Ketidaksepahaman ini kemudian dikipasi oleh tokoh Nazi lain yang tidak menyukai Roehm, terutama Goering, Himmler, dan Goebbels. Hitler sendiri ragu, karena bagaimana pun Roehm adalah sobat lamanya. Desas desus pun lalu ditiuptiupkan, seolah-olah SA akan melancarkan kudeta.

Pada 30 Juni 1934 Hitler yang dipusingkan oleh sikap SA yang sepertinya kurang loyal, akhirnya memerintahkan pembersihan. Goebbels mengirim kode rahasia Colibri ke Berlin, sebagai tanda dimulainya aksi pembersihan. Para pimpinan SA yang tidak mengira dengan mudah ditangkapi dan dibawa ke sekolah kadet militer di Licherfelde, lalu semuanya ditembak mati. Jumlahnya mencapai ratusan orang, termasuk eks-kanselir von Schleicher yang juga dibunuh.

Peristiwa tersebut dikenal sebagai “Malam Pisau Panjang”, Night of the Long Knives. Roehm sendiri ditembak mati pada 2 Juli setelah menolak perintah untuk bunuh difi.

Menuju Perang

Dengan pembersihan terhadap SA, maka pihak militer pun senang karena pesaing mereka telah dipatahkan. Hitler pun juga makin aktif menggalangkekuatan, ke dalam maupun ke luar negeri. Ia menyelenggarakan Olimpiade Musim Panas di Berlin tahun 1936 sebagai bagian propagandanya mengenai Reich Ketiga. Tahun itu dunia juga melihat Nazi dengan terang-terangan mengirim tentaranya, Wehrmacht, memasuki wilayah Rhineland yang sejak akhir PD I dinyatakan sebagai daerah bebas’militer.

Hitler berpesan kepada pasukannya, jika Perancis melakukan reaksi maka pasukan Jerman undur diri dulu. Namun ternyata Perancis impoten, diam saja. Tahun itu AU Jerman, Luftwaffe juga menampilkan pesawat-pesawat ternpurnya terbaru kepada publik untuk pertama kalinya, sementara dok-dok kapal sibuk membangun kapal-kapal tempur besar untuk Kriegsmarine, AL Jerman. Industri berat Jerman sibuk memproduksi tank, pesawat terbang, dan persenjataan lainnya yang semuanya melanggar Versailles.

Tahun 1936 Hitler juga membantu Jenderal Fransisco Franco yang beraliran fasis dalam Perang Saudara di Spanyol, sekaligus sebagai ajang uji coba senjatasenjata baru Jerman. Sementara itu hubungan khusus dengan rezim fasis Italia pimpinan Mussolini juga digalang melalui As Berlin-Roma. Untuk mendapatkan kesetiaan penuh angkatan bersenjata Jerman, maka tahun 1938 Adolf Hitler mengganti dua pimpinan militer, yaitu Marsekal Werner von Blomberg dan Jenderal Werner von Fritsch, karena mereka tidak menyetujui petualangan militer Nazi, seperti masuknya Jerman ke Rhineland dan Sudetenland. Orang pun memandang Hitler sebagai pemimpin jenius yang tidak pernah salah, sebaliknya para pimpinan militer adalah orang penakut yang tidak mampu membangkitkan kebanggaan sebagai bangsa Jerman.

Bulan Maret, Jerman melakukan “penyatuan” atau Anschluss terhadap Austria yang tidak kuat menahan tekanan Jerman. Selanjutnya Hitler makin bernafsu dan melirik Cekoslovakia sebagai korban berikut, sementara Inggris-Perancis demi memelihara perdamaian telah mengorbankan Cekoslovakia. Negeri ini dimasuki pasukan Nazi pada Maret 1939 bersamaan dengan pendudukan terhadap Bohemia dan Moravia. Sementara itu penindasan terhadap bangsa Yahudi semakin meningkat di Jerman dan wilayah yang sudah didudukinya.

Bulan Agustus 1939 dunia dikejutkan oleh tercapainya perjanjian non-agresi antara Jerman dengan Soviet Russia, karena ini berarti nasib Polandia benar-benar di ujung tanduk. Hanya satu minggu sesudah perjanjian itu, maka pada 1 September Jerman Nazi pun melancarkan agresinya terhadap Polandia. Kali ini Inggris dan Perancis tidak lagi tinggal diam. Pada 3 September ketika Russia juga menyerbu Polandia dari timur, maka Inggris-Prancis pun memaklumkan perang terhadap Jerman Nazi. Perang Dunia II pun pecah