Apa itu Shot Gun?

senjata api yang biasanya dirancang untuk ditembakkan dari bahu, yang menggunakan energi dari sebuah selongsong (Bahasa Inggris: shell) berbentuk silinder dan menembakkan sejumlah gentel bulat kecil / gotri (bola timah kecil) (yang dalam bahasa Inggris disebut “shot”), atau sebuah proyektil gotri padat. Senapan gentel dapat ditemukan dalam berbagai ukuran, mulai dari diameter lubang laras 5,5 mm (0,22 inci) hingga 5 cm (2 inci), dan dalam berbagai mekanisme operasional senjata api, termasuk breechloading (pengisian peluru secara sungsang / dari belakang), laras-tunggal, laras-ganda atau senjata kombinasi, aksi-pompa, aksi-baut, aksi-tuas, semi-otomatis, bahkan varian otomatis penuh.

Berkas:Winchester 1897.jpg
Sebuah senapan gentel umumnya merupakan senjata api smoothbore (lubang laras halus), yang berarti bahwa bagian dalam laras tidak mengalami proses rifling (pengaluran spiral di dalam lubang laras). Contoh senjata api lubang halus versi sebelumnya adalah senapan musket yang digunakan secara luas digunakan oleh para tentara perang dalam abad ke-18. Nenek moyang senapan ini, pemuras, yang diisi dari depan dengan bubuk mesiu dan peluru gotri, juga digunakan dalam berbagai peran serupa, mulai dari pertahanan diri hingga pengendalian huru-hara. Senapan ini sering digunakan oleh pasukan kavaleri karena panjangnya yang umumnya lebih pendek dan kemudahan penggunaan, dan oleh kusir kereta kuda karena daya tembaknya yang besar. Namun pada abad ke-19, sebagian besar senjata-senjata ini digantikan di medan perang dengan senjata api tipe breechloading (pengisian sungsang), yang lebih akurat untuk sasaran jauh. Senapan gentel ditemukan kembali nilai militernya dalam Perang Dunia I, ketika Pasukan Ekspedisi Amerika yang dikirim ke Eropa menggunakan senapan gentel aksi-pompa 12-tolok dalam Peperangan Parit yang merupakan pertempuran jarak dekat dengan efek yang memuaskan. Sejak saat itu, senapan gentel telah diaplikasikan dalam berbagai peran seperti keamanan sipil, penegakan hukum, dan militer.


Gotri-gotri kecil yang ditembakkan dari senapan gentel bergerak menyebar setelah meninggalkan moncong laras, dan kekuatan dari ledakan mesiu terbagi ke gotri-gotri tersebut, yang berarti bahwa energi dari setiap bola gotri yang ditembakkan tersebut cukup rendah. Dalam konteks berburu, sifat menyebarnya gotri ini membuat senapan gentel berguna terutama untuk berburu burung dan binatang buruan kecil lainnya. Namun, dalam konteks militer atau penegakan hukum, banyaknya proyektil gotri membuat senapan gentel bermanfaat untuk pertempuran jarak dekat atau senjata defensif. Senapan gentel juga digunakan untuk olahraga menembak sasaran seperti bidik skit, bidik jebakan, dan bidik lempar yang melibatkan menembak cakram tanah liat yang dilempar dengan berbagai cara.

Berkas:Shotgun-shot-sequence-1g.jpg

Karakteristik

Senapan gentel dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, dari yang sangat kecil hingga sangat besar seperti senapan galah, dan juga dari hampir setiap jenis mekanisme operasi senjata api. Karakteristik umum yang membuat senapan gentel unik adalah penggunaan peluru-peluru gotri. Fitur khas dari senapan gentel juga penggunaan selongsong / shell, amunisi berbentuk silinder yang relatif pendek lebar yang berisikan gotri-gotri yang ditembakkan, dan beroperasi pada tekanan yang relatif rendah.

Di Amerika Serikat, amunisi untuk senapan gentel disebut shotgun shells, shotshells, atau hanya shell (cangkang). Di Britania Raya, cartridge adalah nama standar amunisinya. Gotri-gotri tersebut biasanya ditembakkan dari laras smoothbore; jenis lainnya adalah slug barrel (laras peluru-gotri), yang menembakkan satu proyektil saja yang lebih akurat (meskipun beberapa peluru-gotri juga dapat ditembakkan dari senjata smoothbore).

Berkas:Cartouche.jpg

Iklan

CAESAR (CAmion Equipé d’un Système d’ARtillerie/ Truk pembawa sistem artileri)

Langkah Nexter yang berani menyematkan nama diktator-kaisar Romawi paling terkenal sepanjang masa untuk sebuah alutsista artileri swagerak yang merupakan rajanya pertempuran sudah tentu dilandasi oleh alasan yang sangat kuat.

CAESAR (CAmion Equipé d’un Système d’ARtillerie/ Truk pembawa sistem artileri) merupakan alutsista howitzer swagerak terbaru lansiran pabrikan Perancis, Nexter. Modal utama berupa meriam howitzer 155/52mm TRF1 digendong oleh truk Renault Defense Sherpa 5 berpenggerak 6×6. Meriam TRF1 memang sudah dikenal andal dan memenuhi standar NATO yang mewajibkan volume chamber 23l, sehingga diperkirakan negara pembelinya tidak akan mengeluarkan biaya konversi besar jika dibandingkan bila mengakuisisi sistem baru yang belum teruji seperti Bofors ARCHER yang volume chambernya 25l.

Jika dilihat sepintas, bagi Perancis sistem yang mulai didesain pada 1994 dan selesai diracik pada 2006 ini seperti langkah mundur. Kenapa? Karena sebelumnya Perancis memiliki artileri swagerak berpenggerak rantai berbasis tank, AMX-13 mk F3, yang proteksi krunya tentu lebih baik. Akan tetapi, Nexter ternyata punya alasan lain. Dengan format seperti CAESAR, sista ini bisa muat masuk ke dalam pesawat transport kuda beban banyak negara di dunia, C-130H Hercules. Bila terpaksa, helikopter gambot sekelas CH-53E pun bisa didapuk membawa CESAR yang bobot totalnya hanya 18,5 ton. Ini tentu bisa jadi iming-iming menggiurkan bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, yang kemampuan transpor taktisnya sangat terbatas. Terlebih lagi, CAESAR adalah system yang self-sufficient. Dibanding mk F3 yang digantikannya, 6 kru yang dibutuhkan untuk mengoperasikan CAESAR bisa diakomodasi dalam kabinnya yang sudah dilengkapi fitur proteksi Nubika dan berlapis baja yang mampu menahan impak peluru 7,62mm dan pecahan mortir 80mm.

The CAESAR has it all

Diluar dimensinya yang pas untuk digelar secara cepat, CAESAR memiliki segalanya untuk beroperasi secara mandiri. Ini berarti meriam, kru, dan munisi bisa dibawa dalam satu unit sehingga bisa digelar dengan cepat. Truk Sherpa 5 sebagai platform pembawa sudah dimodifikasi secara khusus dengan perkuatan sasis, dan bahkan fitur yang biasanya ada di ranpur beroda yaitu CTIS (Central Tire Inflation Systems) untuk mengatur tekanan ban dari dalam kabin juga disematkan, sehingga CAESAR bisa berjalan di segala medan tanpa hambatan. Dengan dukungan sistem hidrolik khusus, CAESAR bisa digelar hanya dalam 30 detik, dan siap tembak waktu kurang dari 10 menit. Waktu ini cukup untuk menaikkan meriam howitzer sesuai elevasi yang ditentukan, menurunkan dua pasak tumpuan yang ada di belakang, dan menentukan fire solution. Sistem pemuatan munisi pada CAESAR sudah mengaplikasikan sistem otomatis ala revolver, pengisi tinggal menaruh proyektil ke rak, dan pengisi akan memasukkannya langsung ke dalam kamar peluru. Yang perlu dilakukan secara manual adalah memasang charges yang harus dimasukkan setelah proyektil terpasang di kamar peluru. CAESAR sudah mengaplikasikan sistem munisi tanpa kelongsong (caseless) sehingga bobot munisi yang dibawa lebih ringan dan tentu saja ramah lingkungan.

 

Bila proyektil sudah masuk, pemimpin regu tembak tinggal membuka komputer penembakan dengan layar sentuh yang letaknya ada di sebelah kiri, yang dalam keadaan tertutup terlindung dalam boks baja. Hanya dengan sentuhan tombol, howitzer TFR1 mampu melontarkan proyektil 155mm solid HE, 1.500 bomblet, atau 48 munisi pintar anti tank sampai jarak 42 km. Secepat CAESAR digelar, seringkas itu pula saat sista ini harus dipindahkan. Dalam 45 detik, CAESAR sudah bisa dikemudikan keluar dari area penembakan, bahkan sebelum tembakan pertama mendarat di sasaran. Ini menghindarkan resiko CAESAR terhantam oleh tembakan artileri balasan (counter battery) lawan.

Namun diluar kehebatan howitzer TRF1 155/52 yang memang terkenal akurat dan diekspor ke berbagai negara, sesungguhnya dibalik kebersahajaan CAESAR, di dalam kabinnya terletak sistem pandu terpadu yang didesain untuk memasuki medan pertempuran abad-21. Sistem manajemen kontrol penembakan FAST buatan Nexter-EADS Defense Electronics sudah dilengkapi ROB4 muzzle velocity radar systems, SAGEM SIGMA 30 navigation systems, dan GPS (Global Positioning Systems). SIGMA 30 merupakan inertial guidance system pertama di dunia yang langsung ‘ditempelkan’ ke landasan meriam, menjanjikan akurasi maksimal karena berada dekat dengan laras. Perwujudannya adalah 3 layar tampilan model sentuh yang ada dalam kabin CAESAR yang menampilkan peta topografi lapangan. Operator tinggal menekan koordinat yang dibacakan oleh tim di lapangan, yaitu regu infanteri yang memerlukan bantuan tembakan yang kemudian direlay ke regu tembak yang sudah siap mengoperasikan howitzer CAESAR di belakang. Koordinasi langsung antara regu infanteri dan baterai CAESAR memperpendek waktu reaksi, mengurangi marjin kesalahan, serta meningkatkan efektifitas Fire for Effect dengan kemungkinan first round kill yang besar. Khusus untuk Perancis yang memang getol mengembangkan sistem tempur masa depan, tiap baterai CAESAR sudah siap diintegrasikan kedalam ATLAS Artillery Management Systems. Dalam demo yang ditunjukkan Nexter, pusat komando bisa melihat ilustrasi sapuan artileri pada koordinat yang dituju berdasar feedback real time dari UAV, baik dalam tayangan video maupun ilustrasi 3D. Boleh jadi, fleksibilitas yang ditunjukkan CAESAR yang sesuai untuk negara maju maupun negara-negara berkembang yang belum menerapkan BMS (Battlefield Management Systems) akan menjadi kunci yang memampukan CAESAR memimpin di depan dalam kancah persaingan pasar artileri swagerak.

 

————————————————-

Sumber …………………………

Rudal anti Tank FGM-148 Javelin

 

FGM-148 Javelin merupakan rudal antitank berpemandu sekali pakai pertama yang diterima oleh 75th Ranger Regiment, US Special Forces, dan kesatuan khusus Tier 1 didalam USSOCOM. Dengan sifatnya yang unik, Javelin merupakan penambahan dan bukannya penggantian terhadap roket antitank seperti RAWS.

Rudal yang dikembangkan dalam proyek AAWS-M (Andvanced Anti-Tank Weapon System-Medium) pada tahun 1986 ini mengantarkan militer AS kedalam generasi ketiga rudal antitank yang memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan pendahulunya seperti TOW maupun M47 Dragon. Satu fitur yang bermanfaat adalah fitur soft launch, dimana rudal akan meluncur keluar tabung hanya dengan propelan pendorong, dan baru menyalakan motor roketnya pada jarak 1 meter dari titik luncur, sehingga Javelin bisa ditembakkan dengan aman dari dalam bangunan.
Didesain dengan hululedak tandem HEAT, Javelin didesain untuk mampu mengalahkan MBT, bahkan yang dilengkapi dengan lapisan ERA generasi pertama sekalipun. Javelin memiliki kemampuan untuk melakukan serangan top attack, dimana rudal akan menanjak terlebih dahulu sampai ke ketinggian 160 meter, terbang mendatar, lalu menukik tepat keatas sasaran. Profil terbang misil ini dikendalikan secara autopilot dimana misil menyesuaikan jarak, arah, kecepatan dan simpangan angin berkat keempat sirip yang bisa diatur sudut-sudut kemiringannya. Serangan top attack memiliki probabilita tinggi untuk melumpuhkan MBT karena bagian atas MBT biasanya memiliki proteksi yang lebih tipis dibandingkan dengan bagian frontal atau samping. Apabila diinginkan, Javelin juga bisa diluncurkan dalam moda direct attack, dimana rudal akan menanjak sedikit lalu meluncur langsung ke sasarannya, cocok untuk menghajar fortifikasi atau ranpur yang berada pada jarak dekat.

 

Kemampuan Javelin untuk meluncur secara pintar ini adalah berkat sistem pemandu pintar yang tersimpan pada modul CLU (Command Launch Unit) yang bisa dilepaskan dari tabung peluncurnya. CLU yang merupakan passive infra red sight memiliki tiga macam magnifikasi yaitu day field of view (4x), Wide Field of Fiew (thermal, 4x), Narrow Field of View (9x), dan akhirnya Seeker Field of View (9x). Saat memasuki mode SFV, secara otomatis CLU mengirimkan input data jarak pada misil ke Launch Tube Assembly yang menjadi rumah bagi misil sehingga sasaran sudah mulai bisa dikunci, rudal ditembakkan dan penembak segera beralih begitu rudal meluncur keluar karena Javelin menganut sistem fire and forget. Satu hal yang menjadi keunggulan Javelin adalah CLU yang memiliki fitur setingan kontras dan kecerlangan sehingga nyaman digunakan, masih ditambah lagi dengan unit pendingin yang mendinginkan sensor sehingga pengenalan termal pada objek sasaran dapat dilakukan CLU secara lebih baik dibandingkan dengan optik NOD monocular yang menjadi standar pasukan AS. CLU pun hanya ditenagai dengan satu baterai litium BA-5590U yang juga sekali pakai sehingga terhindar dari problem baterai drop. Banyak personil yang melepas CLU dan menggunakannya sebagai teropong observasi, sehingga boleh dibilang CLU saat ini adalah teropong malam infantri terbaik dalam AD AS.

 

75th Ranger sebagai kesatuan pertama dalam AD AS menerima Javelin mulai 1996 dan mengalokasikannya ke 3rd Battalion/75th Ranger Regiment. Rudal ini terbukti mampu memberikan daya tembak berlipat ganda yang memberikan kemenangan menentukan bagi pasukan yang kekuatannya lebih kecil. Dalam salah satu kontak tembak dalam operasi Iraqi Freedom, Satu tim Ranger yang melaksanakan misi patrol pengintaian dengan Humvee di sebelah barat Irak melihat dua buah tank, kemungkinan T-55, yang bersembunyi dalam posisi dug-up (dilindungi bunker pasir sehingga hanya kubah yang nampak). Posisi Ranger lebih unggul karena mereka ada diatas bukit, dan pasukan Irak belum mengetahui keberadaan mereka.

Tim tersebut, yang beranggotakan Sgt. Jason Witmer, Cpl. Jeremy Mumma, Spc. Matthew Pickell, dan Spc. Michael Kithcart memutuskan bahwa mereka mengambil kesempatan dengan mencoba menghancurkan tank tersebut dengan Javelin yang mereka bawa. Dari jarak 1.800 meter, Cpl. Mumma yang menjadi penembak mengunci salah satu tank dengan Javelinnya, meluncurkan rudal, dan segera berganti ke tabung kedua bahkan sebelum rudal menghantam sasarannya. Tank kedua juga dikunci, dan tidak punya kesempatan bereaksi dan meledak tak lama setelah tank pertama dihancurkan.

 

Pada tahun 2003, dalam pertempuran Debecka Pass ODA (Operational Detachment Alpha/ A-Team) 391 dan 392 bertahan dari serangan Divisi ke-34 Irak yang dilengkapi dengan T-55 dan ranpur MT-LB dengan mengandalkan Javelin. Dengan menembakkan selusin Javelin, ODA 391 dan 392 mampu bertahan dan bahkan menghancurkan sejumlah tank dan ranpur dengan hit ratio diatas 80%. Dengan keputusan TNI untuk mempertimbangkan pembelian FGM-148 Javelin yang kita harapkan akan terwujud, maka TNI-AD akan menjadi salah satu negara yang mengoperasikan rudal berpemandu terbaik yang ada saat ini, dipadukan dengan sistem roket pintar NLAW yang dibuat oleh Thales Defense.

FGM-148 Javelin
Pabrikan        : Texas Instrument/ Raytheon/ Lockheed Martin
Desain           : Juni 1989
Bobot             : 22,3 kg (misil 11,8kg)
Panjang         : 1,2m
Jarak efektif    : 2000-2500m (Javelin Blok 1)
Hululedak       : HEAT (High Explosive Anti Tank)

Perkembangan Senjata Kanon Tank

Perkembangan laras senjata api : Smoothbore-Rifling-Smoothbore.
Pada awalnya, laras senjata api dibuat licin (smoothbore) dan proyektil yang ditembakan melesat tanpa berputar (spin) yang signifikan, sehingga proyektinya harus memiliki bentuk yang stabil seperti panah besirip atau bola untuk meminimalkan kemunkinan terguling atau jatuh ke tanah selama terbang. Namun peluru berbentuk bola cenderung berotasi secara acak selama terlontar di udara, hal ini disebabkan terjadinya ”efek Magnus”  yaitu; lintasan peluru berbentuk bola akan membentuk kurva parabola yang relatif mulus tetapi rotasinya terjadi beberapa poros sehingga menjadi tidak sejajar dengan arah lintasan.
Untuk menghidari hal tersebut, maka dibuatlah laras senjata yang memiliki alur yang berputar atau alur spiral (polygonal rifling) sehingga pada saat peluru ditembakan, alur rifling tersebut akan memaksa proyektil untuk melintir  (spin), melesat dengan stabil dan mencegah jatuh ke tanah. Ada dua kelebihan dari laras yang alurnya berputar (rifling), pertama: meningkatkan akurasi tembakan dengan menghilangkan  rotasi acak akibat efek magnus, dan kedua : memungkinkan peluru dibuat lebih panjang, lebih berat sehingga meningkatkan jarak capai dan tenaga, walaupun  ditembakan pada senjata dengan kaliber yang sama. Pada abad 18, senjata dengan laras smoothbore menjadi standar pasukan infanteri, kemudian pada abad 19 smoothbore digudangkan dan digantikan dengan laras yang rifling. Karena laras yang rifling inilah maka orang umum di barat menyebut senjata api dengan kata rifle.

Perkembangan senjata kanon pada Kendaraan tempur Tank terjadi transisi yang aneh, awalnya laras senjata dibuat smoothbore, kemudian smoothbore digantikan dengan kanon yang alurnya rifling (berputar) dan akhir- akhir ini  kembali lagi ke smoothbore. Data terakhir mencatat, dari sekian jenis tank tempur utama (MBT=Main Battle Tank) generasi terbaru, sebut saja Leopard (Jerman), Abrams (AS), Le Crec (Perancis), T-90 (Rusia), Ariete (Italy), Merkava (Israel), semuanya menggunakan Kanon smoothbore kecuali Chalenger (Inggris) dan Arjun  (India) yang masih bertahan menggunakan kanon rifling.

PERKEMBANGAN MUNISI DAN ARMOR PROTECTION

Perkembangan laras kanon dari smoothbore ke rifling dan kembali lagi ke smoothbore, tidak lepas dari perkembangan penggunaan jenis munisi dan “ sistem kekebalan tubuh “ yang diberikan oleh “ lindung lapis baja “-nya badan kendaraan tempur tank.
Secara umum ada empat jenis minisi kanon standar, walaupun dari keempat jenis munisi ini dipecah lagi menjadi beberapa sub-varian. Keempat jenis munisi tersebut adalah HE, HESH, HEAT dan APFSDS.

HE

Munisi kanon yang paling umum adalah munisi yang mempunyai daya ledak tinggi,  yang secara sederhana biasa disebut peluru HE (High Explosive). Proyektil munisi ini terbuat dari baja yang kuat, diisi bahan peledak berkekuatan tinggi, dan sebuah fuse. Ketika fuse memicu bahan peledak, maka bahan peledak bereaksi sehingga menghasilkan ledakan, memancarkan panas dan akibatnya menghancurkan casing proyektil menjadi berkeping-keping (fragments) yang berterbangan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Efek perusakan yang diakibatkan peluru ini lebih banyak disebabkan oleh pecahan kepingan proyektil (fragments) dari pada gelombang kejut secara langsung.

Munisi HE terdiri dari beberapa fungsi tergantung jenis fuse yang digunakan. Ada peluru HE yang diset untuk meledak pada permukaan tanah/ sasaran, ada yang di set untuk meledak diatas permukaan tanah / sasaran, dan ada pula yang diset untuk meledak setelah melakukan penetrasi pada tanah dengan  kedalaman yang pendek (dengan maksud untuk menyalurkan dan menambah goncangan tanah atau mengurangi penyebaran fragmentasi dari proyektil ).

Munisi ini tegolong pada munisi yang menghasilkan efek perusakan berdasarkan energi kimia  (Chemical Energy) yang saat ini cocok digunakan untuk menghancurkan sasaran non armour seperti gedung, bunker, jembatan dan perkubuan. Untuk akurasi (ketepatan) peluru ini mengandalkan senjata dengan alur dan galangan yang berputar (rifling)

HESH

Munisi HESH (High Explosive Squash Head) atau di Amerika disebut HEP (High Explosive Plastic) adalah munisi yang cukup efektif terhadap bangunan beton dan juga digunakan untuk melawan kendaraan tempur. Munisi HESH pertama kali digelar oleh Angkatan Darat Inggris pada masa perang dingin, kemudian diikuti oleh Angkatan bersenjata negara lain pasca perang dingin.

Proyektil munisi HESH adalah logam tipis yang diisi bahan peledak plastis berdaya ledak tinggi yang dirangkaikan dengan fuse yang memberikan jeda waktu aksi (delayed-action base fuse). Pada saat proyektil HESH membentur sasaran, proyektil berubah bentuk menjadi pipih / squashed (seperti labu yang dibenturkan ke dinding, munkin ini  penyebabnya munisi ini menggunakan kata “squash”  yang berarti labu) atau berubah bentuk menjadi cakram mirip adonan kue yang dibantingkan ke meja. Sepersekian detik kemudian fuse bereaksi memicu bahan peledak, maka terjadi ledakan yang menciptakan gelombang kejut, pada permukaan yang lebar dan kontak langsung dengan target. Pada kasus munisi HESH yang menghantam badan kendaraan tempur, terjadi tekanan gelombang kejut yang menghentak badan kendaraan tempur yang terbuat dari logam dan menjalar dengan cepat ke bagian dalam kendaraan tempur sampai mencapai titik antara permukaan logam interior dengan udara ruangan awak, sebagian energi direfleksikan sebagai gelombang tegangan.

Pada saat itu tekanan dan gelombang tegang berpotongan,  maka terciptalah zona stress tinggi (high stress zone) pada logam badan kendaraan tempur yang menyebabkan terjadinya pecahan-pecahan baja yang memancar dari dinding interior. Fragmentasi akibat gelombang ledakan ini disebut spalling, sementara pecahan logam (fragmen) itu sendiri disebut spall. Pecahan logam tersebut berterbangan pada kecepatan yang sangat tinggi melalui bagian dalam kendaraan untuk melukai atau membunuh para awak, kerusakan peralatan, dan / atau menyulut munisi dan bahan bakar.


Peluru HESH memiliki kegunaan yang luas sebab dapat bekerja efektif pada hampir semua jenis target, tetapi umumnya munisi ini memiliki kecepatan (v) yang relatif rendah karena kecepatan tinggi akan mengakibatkan benturan proyetil yang berubah bentuk menjadi pipih pada sasaran akan terlalu menyebar sehingga mengurangi dampak gelombang kejut. HESH tidak dirancang untuk benar-benar melubangi badan kendaraan tempur terutama tank MBT, sebab hanya mengandalkan konduksi gelombang kejut yang terjadi pada plat baja kendaraan tempur padat (solid steel armour). Munisi HESH memerlukan akurasi tinggi, maka hanya efektif bila ditembakan dari kanon yang alurnya berputar ( rifling )

Untuk menghadapi efek kerusakan akibat tembakan peluru HESH, maka desain badan kendaraan tempur dikembangkan  menjadi berlapis-lapis mengarah kepada logam komposit yang keras dan bahan-bahan tahan panas. Struktur logam seperti  ini adalah konduktor yang buruk bagi  gelombang kejut, dan lebih jauh lagi  “lapisan pencegah fragmentasi / spalling”, terbuat dari bahan-bahan seperti Kevlar, biasanya dipasang di bagian permukaan baja, di mana ia bertindak untuk mempertahankan setiap pecahan yang mungkin  terjadi.

HEAT

Dengan tampilnya logam komposit yang digunakan pada badan kendaraan tempur maka kedigdayaan peluru HESH menjadi berkurang. Kendaraan tempur modern saat ini  terutama tank/panser kelas medium dan Tank MBT (Medium & Heavy Armor) menjadi lebih kebal, sehingga peluru HESH penggunaannya hanya efektif terhadap sasaran kendaraan tempur kelas ringan (Light Armored Vehicle) yang struktur logamnya non komposit generasi lama, juga sasaran gedung, jembatan atau bunker.

Untuk menghadapi kendaraan tempur yang badannya sudah kebal oleh peluru HESH maka perlu munisi yang yang lebih efektif yaitu munisi HEAT (High Explosive Anti Tank). Munisi HEAT dibuat berdasarkan teori efek Neumann (yang merupakan pengembangan efek Munroe) yaitu pancaran  (jet) berkecepatan sangat tinggi (very-high velocity) dari logam dalam keadaan cair (superplasticity) dapat menembus logam padat (solid armor).

Peluru HEAT betul-betul dirancang untuk menembus baja  kendaraan tempur, dimana bahan peledak bereaksi pada saat proyektil membentur sasaran, dan ledakan ini megubah logam padat (biasanya tembaga atau timah) menjadi cair (molten metal/superplasticity) yang dipancarkan melalui celah sempit ruang hampa yang berbentuk corong yang berada dibagian depan proyektil. Pancaran logam cair  yang kemudian desebut Jet ini bergerak dengan kecepatan hipersonik (diatas 25 kali kecepatan suara) sehingga menghasilkan energi kinetik yang bisa mengikis baja kendaraan tempur secara ekslusif. Secara teori peluru HEAT pada awalnya mampu menembus baja dengan diameter lubang 1,5 sampai 2,5 kali diameter proyektil, kemudian peluru HEAT modern diklaim bisa menembus baja sampai 7 kali diameter proyektil dan ini terus meningkat seiring peningkatan kualitas material yang digunakan dan performa kinerja Jet.


Akan tetapi peluru HEAT akan kurang efektif bila berputar (ditembakan dari laras yang alurnya berputar/rifling ; sebuah metode normal untuk menghasilkan akurasi), sebab perputaran tersebut akan menghasilkan gaya sentrifugal (gaya kearah luar pada benda yang berputar) yang akhirnya Jet akan menyebar sehingga daya tembus menjadi berkurang. Atas dasar ini peluru HEAT perlu ditembakan dari senjata berlaras Smoothbore.

Ada kesalah pahaman yang tersebar luas, HEAT diartikan sebagai kata yang berarti PANAS (Inggris), sehingga banyak orang mengira peluru HEAT melakukan penetrasi pada target baja berdasarkan konsep panas, padahal peluru jenis ini tidak tergantung dengan fenomena thermal apapun. Kesimpang siuran ini muncul dari akronim HEAT yang diartikan sebagai kata “PANAS”.

APFSDS

Efek penetrasi peluru HEAT bekerja dengan waktu yang sangat singkat dan berkurang sangat cepat, itu sebabnya saat ini Jerman memelopori penggunaan Skirts (tabir logam) yang dipasang pada bagian samping Kendaraan tempurnya seperti pada MBT Leopard, sehingga daya tembus peluru HEAT akan bekerja pada Skirts dan sudah kehilangan efek penetrasi sebelum mengenai bagian utama badan tank. Atau penggunaan keramik (cobham) yang digunakan pada tank Chalenger ( Inggris) yang terbukti dapat meredam efek Jet peluru HEAT, atau penggunaan reactive armour (baja reaktif) yang mendahului meledakan peluru HEAT kearah luar sebelum peluru HEAT melakukan penetrasi.

Karena kenyataan ini, kejayaan peluru HEAT menjadi melemah, maka perlu diciptakan lagi peluru yang dapat melumpuhkan kendaraan tempur yang sudah dilengkapi dengan skirts,keramik/cobham, atau reactive armour tersebut, maka munculah peluru jenis APFSDS (Armour Piercing Fin Stabilized Discarding Sabot).

Munisi APFSDS dirancang untuk menembus target apapun bukan berdasarkan hasil kerja dari ledakan yang dihasilkan oleh energi kimia (chemical energy penetrator seperti peluru HE,HESH dan HEAT) melainkan berdasarkan konsep yang memaksimalkan efek dari energi kinetik pada peluru yang dirancang sedemikian rupa, sehingga terkadang munisi APFSDS ini disebut Kinetic Energy Penetrator. Prinsip maksimalisasi energi kinetik didapat dari massa dan kecepatan dengan area benturan peluru pada sasaran, sehingga peluru dapat dengan mulus menembus target. Hal ini diperoleh dengan syarat – syarat sebagai berikut :

–    Ditembakan dengan kecepatan (v) yang sangat tinggi.
–    Gaya dikonsentrasikan pada daerah benturan (impact area) yang sangat kecil namun tetap menyimpan massa yang relatif besar .
–    Memaksimalkan massa peluru dengan menggunakan logam terpadat.

Agar gaya dikonsentrasikan pada daerah benturan yang kecil (small impact area) maka proyektil peluru APFSDS dibuat dengan diameter 2-3 cm dan panjang 50-60 cm sehingga bentuknya mirip sebatang linggis, karena hal itu terkadang peluru jenis ini disebut Long Rod Penetrator (LRP), namun masalah lain timbul: bukankah peluru ini ditembakan dari senjata  Kanon yang berkaliber mulai 90 mm, 105 mm sampai 120  mm? Berarti ada celah yang lebar antara diameter proyektil dengan diameter laras senjata? Sementara syarat lain mengharuskan peluru ini ditembakan dengan kecepatan yang sangat tinggi? Untuk mengatasi hal ini maka dipasanglah Sabot  (bahasa Perancis yang berarti sepatu kayu). Sabot inilah yang menutup celah antara proyektil/penetrator dengan diameter laras sehingga kompresi ledakan isian dorong secara maksimal melontarkan peluru dengan kecepatan luar biasa yaitu sekitar 1400 sampai 1900 meter/detik.

Setelah proyektil/penetrator keluar dari mulut laras, Sabot sudah tidak diperlukan lagi, maka dengan sendirinya akan dilepaskan (discarding), akan tetapi karena peluru beroperasi dengan kecepatan tinggi, Sabot masih terlontar sampai beberapa ratus meter dengan kecepatan yang masih mematikan bagi pasukan musuh atau menyebabkan kerusakan ringan pada kendaraan.

Untuk memaksimalkan Energi Kinetik pada saat penetrator (proyektil tembus baja) membentur sasaran, selain penetrator dibuat dengan diameter yang kecil dan ukuran yang panjang, massa penetrator juga harus dimaksimalkan dengan menggunakan logam padat, maka dipilih material dari  Tungsten carbide, atau Depleted Uranium (DU) alloy (Staballoy) .

Namun masalah logis selanjutnya, untuk mendapatkan jangkauan tembakan yang jauh dengan energi kinetik dikonsentrasikan pada daerah benturan yang kecil, sementara desain penetrator yang dibuat panjang dan ramping, secara aerodinamis hal ini tidak stabil, sehingga cenderung jatuh ke tanah pada saat terbang dan kurang akurat. Secara tradisional, penetrator diberi kestabilan selama terbang dari laras dengan alur yang berputar (rifling). Sampai batas tertentu hal ini efektif, akan tapi untuk proyektil yang panjangnya lebih dari enam atau tujuh kali diameternya, rifling menjadi kurang efektif. Maka digunakanlah Fin- Stabilized (sirip ke-stabilan), sehingga kini penetrator dapat terbang dengan stabil tanpa berputar-putar dengan akurasi tetap terjaga. Selain itu bila masih menggunakan kanon rifling, hal ini kontra-produktif, sebab perputaran akibat rifling akan menurunkan penetrasi efektif peluru ini (rifling mengalihkan sebagian energi kinetik linear menjadi energi kinetik rotasi, dengan demikian mengurangi kecepatan peluru dan tenaga benturan). Oleh karena itu peluru APFSDS mutlak, harus ditembakan dari senjata yang alurnya tidak berputar/ rifling yaitu dari laras senjata Smoothbore.

Penutup

Demikian perkembangan jenis laras senjata yang berubah-ubah dari Smoothbore ke Rifling dan kembali lagi ke Smoothbore dengan disertai perkembangan jenis munisi dari yang efek perusakannya di dapat dari ledakan (Chemical Energy) seperti pelurui HE, HESH, kombinasi Chemical & Kinetic Energy seperti HEAT, atau yang mutlak menggunakan Kinetic Energy seperti peluru APFSDS. Hal ini tercipta dengan perlombaan kualitas material dan desain badan Kendaraan tempur. Dan untuk saat ini peluru APFSDS masih jadi “hantu“ menakutkan bagi Kendaraan tempur  dengan kualitas material terbaru sekalipun !
Tank Leopard sebagai salah satu MBT terbaik, menggunakan kanon smoothbore kaliber 120 mm dengan jenis-jenis peluru tersebut di atas yang mampu menghancurkan segala jenis target termasuk peluru APFSDS yang dapat menumbangkan tank lawan jenis apapun.

Sumber

Kh-179, Artileri dari Negeri Ginseng

Kh-179 dikembangkan oleh KIA Machine Tool Company (sekarang bernama Hyundai-WIA) berdasarkan sistem howitzer tarik M114A1, yang banyak dipergunakan dalam Perang Vietnam. Korea Selatan memiliki lebih kurang 1.700 sistem M114A1. KIA memodifikasi sistem pembawa M114A1 agar dapat dipasangi meriam 155mm/L39 baru yang memiliki jarak jangkau yang lebih jauh. Meriam L39 ini terbuat dari baja monoblok yang menawarkan ketahanan panas yang lebih baik sehingga memperpanjang umur laras. Rifling dari meriam ini adalah 1:20 dengan 48 ulir (groove). Pengoperasian meriam ini sendiri tak banyak berubah dari versi M114A1, dimana butuh dua awak untuk mengubah arah meriam, prajurit awak penembak di kiri memutar roda untuk mengubah arah horizontal (traverse), sementara prajurit di kanan sebagai asisten penembak memutar roda untuk mengubah elevasi vertikal moncong meriam. Satu prajurit lagi bertugas sebagai pengarah dan membidik melalui teleskop dengan pembesaran 4x dan dial sight, atau bila diperlukan, mengoperasikan Kh-179 untuk dukungan tembakan langsung (direct fire) menggunakan teleskop khusus lainnya yang memiliki pembesaran 3,5x. Sistem Kh-179 menerapkan dua tabung yang berbeda untuk penahan kejut (hydraulic dampers/ hydropneumatic shock absorber) dan satu tabung lain untuk pengembali kedepan (recuperator), yang dianggap mampu memperpanjang umur pakai meriam. Pada saat penembakan, ada pasak yang bisa diturunkan untuk ditanam dan menambah kestabilan penembakan.

Dari segi amunisi, Kh-179 menikmati kompatibilitas dengan munisi NATO dan AS, satu keunggulan dari produk-produk Korea Selatan. Hal ini berarti Kh-179 mampu menembakkan seluruh munisi 155mm termasuk munisi khusus berpendorong roket (RAP: Rocket Assisted Projectiles). Jarak jangkaunya adalah 22km, atau 30km apabila menggunakan munisi RAP. Kecepatan tembaknya apabila digunakan secara kontinyu maksimal 4 peluru per menit. Untuk kemudahan transportasi, Kh-179 dapat dilengkapi dengan sistem carriage yang dilengkapi APU (Auxillary Power Unit) sehingga dapat bergerak dengan tenaga sendiri. Saat ini Korea Selatan tercatat menawarkan dua varian calibre untuk Kh-179, yaitu L39 dan L45, dengan varian ketiga, yaitu L52, kelihatannya juga mulai dipasarkan. Pembeli tinggal memilih varian yang ada sesuai jarak jangkau yang diinginkan. Tercatat selain Korea Selatan, Iran membeli Kh-179 dan mengopinya sebagai HM-41 yang dipasang diatas sasis truk DIO.

SPESIFIKASI

Kaliber        : 155mm
Calibre        : L39/L45/L52
Jarak recoil    : 1.524mm
Bobot        : 6.890kg
Panjang        : 10.389mm
Tinggi        : 2.770mm

Kendaraan Tempur Infanteri

Kendaraan tempur infanteri (bahasa Inggris: infantry fighting vehicle, IFV) adalah kendaraan tempur lapis baja yang dibuat untuk mentransportasikan infanteri di medan perang, dan memberi dukungan pada mereka. Kendaraan tempur infanteri mirip dengan pengangkut personel lapis baja (armoured personnel carrier, APC) yang juga dirancang untuk membawa lima sampai sepuluh tentara dan perlengkapannya. Perbedaannya adalah pensenjataan kendaraan tempur infanteri yang lebih berat yang membuatnya bisa memberikan dukungan langsung, serta perlindungan bajanya yang lebih tebal. Kendaraan tempur infanteri umumnya dipersenjatai dengan meriam otomatis 20 mm atau 40 mm, senapan mesin 7.62 mm, serta peluru kendali anti-tank.

Berkas:Bmp-3 tan.jpg

Megenal Pasukan Artileri

Artileri secara umum merupakan sebutan untuk kesenjataan (persenjataan), pengetahuan kesenjataan, pasukan serta persenjataannya sendiri yang berupa senjata-senjata berat jarak jauh.

Pada awalnya, istilah artileri (bahasa Perancis: artillerie) digunakan untuk menyebut alat berat apapun yang menembakkan proyektil di medan perang. Istilah ini juga dipakai untuk mendeskripsikan tentara yang tugasnya menjalankan alat-alat tersebut. Dengan ditemukannya kendaraan terbang pada awal abad ke-20, artileri mulai digunakan juga untuk menyebut senjata darat anti-udara.

Artileri adalah bentuk tanah persenjataan darat paling mematikan dan paling efektif , dalam Perang Napoleon , Perang Dunia I dan Perang Dunia II . sebagian besar kematian disebabkan oleh pertempuran artileri. Pada tahun 1944, Joseph Stalin mengatakan dalam sebuah pidato yang artileri adalah “Tuhan Perang”. Para perwira artileri paling terkenal dalam sejarah mungkin Napoleon.

Istilah ini pertama kali muncul pada abad pertengahan, dari bahasa Perancis Kuno atellier yang berarti “mengatur”, dan attillement yang artinya “peralatan”. Dari abad ke-13 seorang artillier adalah pembuat senjata perang apapun, dan 250 tahun kemudian, kata “artileri” mencakup berbagai macam senjata perang.

SEJARAH

Sistem mekanik yang digunakan untuk melempar amunisi dalam perang kuno, juga dikenal sebagai “mesin perang”, seperti ketapel , onager , trebuchet , dan busur , juga disebut oleh sejarawan militer sebagai artileri

Pada Abad Pertengahan Artileri dengan mesiu propelan digunakan pertamakali pada 28 Januari 1132 ketika Jenderal Han Shizhong dari Dinasti Song yang digunakan Escalade dan Huochong untuk menangkap sebuah kota di Fujian .Kemudian, senjata minyak mentah menyebar ke Tengah timur dan mencapai Eropa pada abad ke-13, dengan cara yang sangat terbatas. Di Asia, Mongol mengadopsi artileri Cina dan digunakan secara efektif dalam penaklukan besar . pada akhir abad ke-14, pemberontak Cina menggunakan artileri dan kavaleri terorganisir untuk mendorong Mongol keluar dari Cina.

Tentara Mehmed II , yang menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453, termasuk artileri yang baik dan prajurit bersenjata dengan senjata bubuk mesiu. Dinasti Utsmaniyah melakukan pengepungan enam puluh sembilan senjata artileri di lima belas tempat terpisah dan melatih mereka di tembok kota . Rentetan tembakan meriam Utsmaniyah berlangsung empat puluh hari, dan mereka diperkirakan telah menembakkan hingga 19.320 kali. Kejatuhan Konstantinopel itu mungkin peristiwa pertama yang sangat penting yang hasilnya ditentukan oleh penggunaan artileri ketika meriam perunggu besar Mehmed II , menghancurkan dinding kota, kemudian mengakhiri Kekaisaran Bizantium.

Di Indonesia sejarah artileri di jaman kuno sangat jarang ,Sekitar tahun 1500- 1850an di kepulauan Nusantara dikapal saudagar besar pribumi pasti terdapat sebuah meriam Lantaka yang digunakan untuk menghalau serangan bajak laut. Biasanya, Lantaka terbuat dari besi atau perunggu dan sering dipasang pada perahu saudagar,biasanya beratnya di bawah dua ratus pound, dan bahkan hanya beberapa kilogram.

ARTILERI MEDAN

Karena artileri lapangan terutama menggunakan api langsung senjata telah menjadi bagian dari sistem yang memungkinkan mereka untuk menyerang sasaran terlihat kepada sesuai dengan rencana lengan gabungan. Fungsi utama dalam sistem artileri lapangan:

  • Komunikasi
  • Perintah: kewenangan untuk mengalokasikan sumber daya;
  • Target akuisisi: mendeteksi, mengidentifikasi dan menyimpulkan lokasi target;
  • Pengendalian: kewenangan untuk menentukan target untuk menyerang dan membagikan unit api untuk menyerang;
  • Produksi data menembak – untuk memberikan api dari unit api ke target;
  • Api unit: senjata, peluncur mortir atau dikelompokkan bersama-sama;
  • Spesialis layanan – menghasilkan data untuk mendukung produksi data menembak akurat;
  • Jasa logistik – untuk menyediakan pasokan memerangi, khususnya amunisi, dan dukungan peralatan.

Organisasi dan fungsi-fungsi spasial dapat diatur dengan berbagai cara. Sejak penciptaan modern tentara api tidak langsung yang berbeda melakukannya secara berbeda pada waktu yang berbeda dan di tempat yang berbeda. Teknologi sering faktor tapi begitu juga militer-isu sosial, hubungan antara artileri dan senjata-senjata lain, dan kriteria yang kemampuan militer, efisiensi dan efektivitas dihakimi. Biaya juga menjadi masalah karena artileri mahal karena jumlah besar amunisi yang digunakan memang mahal.

Daftar negara di urutan jumlah artileri:

  • 1. Rusia – 26.121 [ 26 ]
  • 2. Republik Demokrasi Rakyat Korea – 17.900 +
  • 3. Cina – 17700 +
  • 4. India – 11258 +
  • 5. Republik Korea – 10.774
  • 6. Amerika Serikat – 8137
  • 7. Turki – 7450 +
  • 8. Israel – 5432
  • 9. Mesir – 4480
  • 10. Pakistan – 4291 +
  • 11. Indonesia – 1060 +