Kamikaze – Pasukan Bunuh Diri Jepang yang Penuh Dedikasi

Jebolnya garis pertahanan utama Jepang di Niugini dan Mariana memaksa Markas Besar Kekaisaran Jepang putar otak. Tanpa taktik perang khusus, dalam waktu singkat armada laut AS bisa menyeruak lalu menghantam tanah Jepang. Dalam situasi genting itu lah, pada 19 Oktober 1944, Panglima Armada Udara Pertama Laksdya Takijiro Ohnisi segera berkoordinasi dengan Grup Udara ke-201 AL Jepang di Mabalacat, Filipina, untuk mempersiapkan kesatuan udara kamikaze.

“…Satu-satunya cara untuk menjamin agar kekuatan kita efektif hingga ke tingkat maksimal adalah dengan mengorganisasikan unit-unit serangan bunuh diri. Tiap pesawat harus menabrakkan diri ke kapal induk musuh…”(Laksamana Madya Takijiro Ohnisi, 1944).

Serangan Kamikaze rancangan Ohnisi menjadi legenda yang tak terlupakan dalam sejarah Perang Pasifik. Kamikaze mencerminkan watak asli orang Jepang yang lebih memilih mati secara terhormat ketimbang selamat tapi harus menanggung kekalahan. Watak unik ini mengingatkan orang pada semangat bushido kaum Samurai. Dari 2.800 serangan kamikaze, Jepang setidaknya berhasil menenggelamkan 34 kapal perang AS dan merusak 368 kapal lainnya. Dalam serangan ini 4.900 pelaut AS gugur, sementara 4.800 lainnya terluka.

Kamikaze Sebagai Sebuah Kehormatan

Tidak ada pengorbanan yang lebih tinggi dari seseorang yang menyerahkan nyawanya untuk sebuah perjuangan. Apakah itu perjuangan untuk keluarga, sahabat, atau negaranya. Dalam sejarah peperangan di sejumlah negara, kita tentu sering mendengar tentang pengorbanan jenis ini. Namun, sepanjang sejarah peradaban manusia, tampaknya tak ada yang seradikal seperti yang dilakukan pilot-pilot muda Jepang.

Jika pengorbanan nyawa yang terjadi di sejumlah negara hanya dilakukan seorang atau sekelompok pejuang dalam keadaan terdesak; dalam sejarah peperangan Jepang di Pasifik (1944), mereka siap mengorbankan nyawa dalam unit-unit khusus yang telah dipersiapkan dengan taktik menabrakkan pesawat yang mereka kemudikan ke kapal-kapal perang Amerika. Jepang menjuluki serangan yang tak biasa ini sebagai kamikaze atau yang dalam bahasa mereka berarti Angin Dewa.

Pasukan kamikaze bernama Tokkotai ini sejatinya dibentuk oleh Laksamana Madya Tokijiro Ohnisi, Panglima Armada Udara Pertama yang membawahi seluruh kekuatan udara Jepang di Filipina. Ia mengaku mendapat perintah dan kepercayaan dari Markas Besar Kekaisaran Jepang untuk mendukung Armada Kedua Jepang yang akan memukul mundur kekuatan Amerika. Kekuatan Amerika harus diberi “perlakuan khusus” karena telah menjebol garis pertahanan utama Jepang di Pasifik, yakni di Nugini dan Kepulauan Mariana.

“Jika dilakukan sekali, dua kali, atau tiga kali, kamikaze bisa menjadi serangan pengejut. Tetapi, jika dilakukan sampai sepuluh bulan, Kaisar Hirohito harus menghentikannya…”

Kesatuan udara kamikaze ,bentukan Ohnisi akan lebih dulu menghantam armada kapal induk Amerika agar kekuatan udara AL AS tak mengganggu serangan armada laut Jepang. Pertempuran yang akan menentukan posisi Jepang di Asia Pasifik ini akan digelar di Formosa (kini Taiwan), Kepulauan Ryukyu dan tanah Jepang. Operasi militer yang dimulai 18 Oktober 1944 ini sendiri diberi nama Sho, yang artinya adalah kemenangan.

Sho benar-benar memukau. Tentara AS amat terkesima menyaksikan serangan nekad yang sulit dinalar ini. Bagaimana tidak? Para pilot muda kamikaze itu dengan beraninya menukik untuk kemudian menabrakkan pesawat-pesawat mereka ke kapal-kapal perang AS. Setiap pesawat rata-rata membawa bom seberat 250 kg. Pasukan kamikaze juga “men- girim” bom-bom terbang yang dikendalikan pilot. Menurut Ohnisi, hanya dengan cara inilah efektivitas kekuatan udara negerinya akan ada pada tingkat maksimal.

Kondisi kapal perang Bunker Hill (CV-17) yang dalam 30 menit dihajar kamikaze Zero sampai dua kali. Akibat kerusakan parah yang dialami, Bunker Hill akhirnya tidak bisa lagi turun ke medan perang.

Kamikaze pertama dilakukan oleh Laksamana Madya Masafumi Arima, komandan Armada Udara ke-26 pada 15 Oktober 1944. Tatkala memimpin 100 pembom tukik Yokosuka D4Y, is tiba-tiba menukikkan pesawatnya ke arah kapal induk USS Franklin. Kapal itu pun hancur. Pangkat Arima kemudian dinaikkan setingkat menjadi Laksamana.

Hingga kini, seberapa besar jumlah kapal perang yang berhasil dihancurkan pasukan kamikaze masih menjadi perdebatan sejumlah pihak. Menurut catatan AU AS, Jepang setidaknya telah melancarkan 2.800 serangan kamikaze dan menenggelamkan 34 kapal perang. Kamikaze juga telah merusak 368 kapal, membunuh 4.900 pelaut, serta melukai 4.800 orang lainnya.

Meski sudah melawan matimatian, Jepang toh tak bisa menepis kekalahan. Born atom yang dijatuhkan AS di Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945 benar-benar mengandaskan ambisi Jepang yang ngin menguasai Asia Pasifik. Rakyat Indonesia sendiri tak akan pernah melupakan kekejaman Jepang yang selalu ingin disebut Pemimpin Asia, Pelindung Asia dan Cahaya Asia itu.

Sukar dinalar Kekalahan, dalam tradisi dan kebudayaan Jepang, ternyata merupakan fakta yang amat memalukan. Secara turun temurun orang Jepang seperti sudah mewarisi watak untuk pantang menerima kekalahan. Dalam pekerjaan dan cita-cita, mereka akan berusaha merengkuhnya dengan gigih. Sementara dalam bertempur, mereka akan berusaha menundukkan musuh-musuhnya hingga titik darah terakhir.

Pada saat yang sangat kritikal, tentara Jepang kerap dirasuki semangat Bushido: loyal dan menjunjung tinggi kehormatan sampai mati. Inilah yang luar biasa dan tak dimiliki bangsa-bangsa lain. Semangat ini merupakan warisan utama dari tradisi Samurai – para pejuang yang menjadi pendahulu mereka. Mereka berjuang demi kehormatan bangsa dan Kaisar, kalau perlu sampai menyerahkan nyawa.

Bushido adalah buah keyakinan, dan yang namanya keyakinan memang sukar dinalar. Itu sebab, hanya kesima dan guman tak masuk akal saja yang muncul jika kita ingin memahami keyakinan yang mendasari keberanian untuk mengorbankan nyawa itu. Ketika semangat kamikaze sudah merasuk ke dalam jiwa, tindakan mereka seolah tak lagi masuk akal.

Foto ini diambil pada 26 Mei 1945. Terlihat Corporal Yukio Araki, memegang anak anjing, diabadikan bersama empat pilot lainnya dari 72nd Shinbu Squadron di Bansei, Kagoshima. Araki gugur sehari kemudian padausia 17 tahun dalam misi bunuh diri diatas kapal perang Sekutu di dekat Okinawa

Semangat bushido tumbuh, hidup dan dipelihara di lingkungan Samurai – kelompok pejuang kelas menengah-atas yang rela mengorbankankan nyawa demi mempertahankan budaya dan kekuasaan Kaisar. Bagi mereka, Kaisar adalah titisan Dewa Matahari yang harus dijaga keberadaannya. Mereka akan berjuang habis-habisan dengan seluruh skill dalam berlaga. Meski kaum Samurai hanya hidup antara tahun 905 hingga pengujung abad ke-12, semangatnya masih tertanam dalam sanubari kebanyakan orang Jepang, hingga sekarang.

Selain didasari semangat Bushido, keberanian mengorbankan nyawa juga dilandasi sentimen nasionalisme akibat ketaatan yang amat tinggi terhadap Shinto – agama yang dianut hampir seluruh orang Jepang. Shinto juga menanamkan pegangan hidup agar menaruh hormat kepada negara dan Kaisar. Lewat Shinto mereka menyakini, bahwa dengan mengorbankan nyawa, roh akan menjadi “eirei” atau penjaga negara.

Nama pasukan kamikaze yang gugur di medan tugas akan diabadikan di Kuil Yasukuni. Penganut Shinto yang fanatik akan merasa terhormat jika namanya diabadikan di kuil ini. to karena Yasukuni merupakan satu-satunya kuil di Jepang yang tin dikunjungi Kaisar. Kaisar an mengunjunginya dua kali lam setahun. Penderitaan an pengorbanan mereka akan seta-merta terbayar setelah Sang n,Dewa Matahari menyamarldpa dan penghargaan khu,atau tidak, keyakinan tertanam sejak dini, dalam benak orang-orang Jepang.

Meski begitu, toh ada juga sekolompok orang Jepang yang memandang keyakinan itu amat berlebihan atau mengada-ada.Tsuneo Watanabe Redaksi harian Yomiuri Shimbun, misalnya, menganggap bahwa cerita tentang pilot-pilot muda yang mau melakukan serangan kamikaze dengan gagah be rani dan bahagia melakukannya sebagai bohong belaka. Mereka lebih meyakini semua itu dilakukan dengan keterpaksaan. Mereka adalah pemuda Jepang yang tersesat di “rumah pembantaian”.

“Mereka tertunduk, sebagian tak sanggup berdiri, sehingga harus dipaksa masuk ke dalam kokpit,” ungkap Watanabe, mengisahkan penderitaan pilot-pilot muda yang direkrut masuk ke dalam kesatuan udara kamikaze.

Saburo Sakai, salah satu aces kenamaan Jepang dari masa Perang Pasifik, bahkan termasuk orang yang memandang miris pasukan ini. Terlebih karena sebagian dari pilot-pilot muda itu adalah murid-muridnya sendiri. Ia tak habis pikir, mengapa pimpinan Tentara Jepang sampai membentuk pasukan bunuh diri.

Di mata Saburo Sakai yang tutup usia pada tahun 2000 akibat serangan jantung, kamikaze adalah blunder tentara Jepang. Hingga di pungujung usianya, dia mengaku kecewa dan masih sering membayangkan wajah murid-muridnya yang gugur dengan cara yang konyol itu. “Pimpinan Tentara Jepang telah berbohong bahwa para pilot kamikaze telah menyerahkan diri secara sukarela. Mereka berbohong.” Menurutnya, kamikaze memang bisa digunakan sebagai serangan kejut, dan ini memang merupakan salah satu taktik perang. Namun taktik seperti ini hanya efektifjika dilakukan sekali, dua kali, atau tiga kali. Tetapi jika dilakukan sampai sepuluh bulan, kamikaze sudah sangat berlebihan. Tak akan ada artinya lagi. Kaisar Hirohito sebenarnya hams menghentikan serangan ini.

Apa pun itu, meski akhirnya ditentang sekali pun, kamikaze tetap menjadi legenda yang selalu hidup. Yang tak pernah terlupakan, meski lawan yang diahadapi adalah negara superhebat yang memiliki berbagai keunggulan dan tak pernah habis diceritakan.

Awal Terbentuknya Kamikaze

Mabalacat adalah sebuah kota kecil di Luzon, Filipina, sekitar 80 km barat daya Manila. Ili dekat kota ini terdapat lapangan terbang yang dijadikan pangkalan Grup Udara 14e-201 AL Jepang. Pada sore 19 Oktober 1944, pangkalan udara Mabalacat mendadak didatangi oleh Laksamana Madya Takijiro Ohnishi, panglima baru Armada Udara Pertama, yang membawahi seluruh kekuatan udara AL Jepang di Filipina. Padahal dia baru dua hari tiba dari Tokyo untuk memulai jabatan barunya ini. Dia diterima oleh perwira eksekutif 201 Commander Asaichi Tamai dan perwira staf senior Kolonel Rikihei Inoguchi, karena komandan 201 Kolonel Sakae Yamamoto tengah bertugas ke Manila. Kedua pewira ini heran dan bertanyatanya, apa gerangan yang membawa Ohnishi ke Mabalacat ?

Kepada kedua perwira ini, Ohnishi langsung meminta diantar ke markas pangkalan. “Saya kemari karena ada sesuatu yang amat penting untuk kita bicarakan,” katanya singkat. Setiba di markas, tiga perwira lain dipanggil ikut bergabung. Masing-masing Chuichi Yoshioka, Perwira staf dari Flotila Udara Ke-26, dan dua pemimpin skadron dari Grup Udara 201, Letnan Masanobu Ibusuki dan Letnan Ryo Yokoyama.

Komandan 201 Yamamoto yang pergi ke Manila karena dipanggil oleh Ohnishi belum juga tiba. Rupanya di jalan mobilnya dan mobil Ohnishi sempat berpapasan, namun keduanya saling tidak menyadari. Ohnishi buru-buru Mabalacat karena tidak sabar menunggu tibanya Yamamoto di Manila. Mengetahui komandannya justru yang datang ke pangkalan, maka begitu tiba di Manila ia minta disiapkan sebuah pesawat agar cepat tiba di Mabalacat. Tetapi sial, begitu mengudara pesawat Zero-nya rewel hingga terpaksa mendarat di persawahan.

Sosok Vice Admiral Onishi yang merupakan tokoh pencetus Kamikaze

Di markas pangkalan, Ohnishi duduk berenam mengelilingi sebuah meja di ruangan lantai dua. Dia memandangi wajah anak buahnya satu persatu, seolah-olah ingin membaca pikiran masingmasing. Suasana hening itu baru pecah ketika ia mulai membuka suara. “Seperti kalian ketahui, situasi peperangan makin genting. Munculnya armada Amerika yang kuat di Teluk Leyte telah dikonfirmasi. Sehingga nasib Kekaisaran kita, kini tergantung dari pelaksanaan Operasi Sho,” katanya.

Operasi bersandi Sho atau `Kemenangan’ ini dirancang Jepang setelah garis pertahanan utamanya di Pasifik seperti Nugini (Papua) dan Kepulauan Mariana ditembus oleh AS. Jepang memperkirakan Filipina akan jadi sasaran berikut, tanpa menutup kemungkinan Formosa (Taiwan), Kepulauan Ryukyu, dan bahkan tanah Jepang sendiri juga menjadi sasaran. Mana pun yang pertama akan diinvasi oleh Amerika, rencana Sho menegaskan wilayah itu harus dijadikan “ajang pertempuran yang menentukan”. Seluruh kekuatan pertahanan Jepang yang ada harus dikerahkan ke wilayah tersebut tanpa kecuali. Kapan operasi ini diaktifkan, sepenuhnya diserahkan kepada Mabes Umum Kekaisaran. Ternyata pada 18 Oktober 1944 pukul 17.01, Mabes telah memutuskan Sho diaktifkan menyusul kuatnya ancaman invasi Amerika di Leyte.

Laksamana Ohnishi menegaskan, untuk memukul mundur Amerika dikerahkan Armada Kedua Jepang pimpinan Laksamana Takeo Kurita yang tengah menuju Leyte. Sedangkan tugas Armada Udara Pertama yang dipimpinnya adalah memberikan perlindungan udara bagi Kurita. “Untuk melaksanakan tugas ini, kita harus menghantam armada kapal induk musuh. Setidaknya membuat mereka terkapar selama satu minggu, sehingga kekuatan udaranya tidak bakalan mengganggu armada laut kita,” katanya.

Perwira senior Kolonel Rikihei Inoguchi yang merupakan tokoh pencetus kamikaze

Waktu satu minggu tanpa ancaman pesawat dari kapal induk Amerika diperlukan, karena armada Kurita sendiri tidak disertai kapal induk, namun oleh dua kapal tempur kembar terbesar, Yamato dan Musashi. Apabila armada Jepang yang kuat ini dengan aman berhasil mencapai Teluk Leyte, dapat dibayangkan betapa kapal-kapal pengangkut pasukan Amerika akan dibantai oleh armada Kurita.

Ohnishi menyimpulkan bahwa Tokyo kini menggantungkan harapannya kepada Armada Udara Pertama. “Sho berarti kemenangan. Tetapi apabila Armada Udara Pertama sampai gagal, maka Operasi Kemenangan ini akan berbalik menjadi kekalahan yang tak mungkin diperbaiki lagi,” tambahnya. Ia mengatakan, dalam Operasi Sho rencananya Armada Udara Kedua di Formosa akan dipindahkan ke Filipina. Mereka akan membantu Armada Udara Pertama, yang jumlah pesawatnya tinggal sedikit akibat intensif nya gempuran udara Amerika di seantero Filipina.

Penerbang kamikaze siap lepas landas. Kota Mabalacat , Pampanga, Tarlac yang merupakan tempat bagi Pangkalan Udara Grup Udara 201 AL Jepang menjadi sejarah sendiri bagi Jepang. Di kota inilah untuk pertama kali muncul ide agar dibentuk unit Kamikaze atau kekuatan khusus yang diyakini akan sanggup menghadang kekuatan Sekutu yang tidak lama lagi mendarat di Filipina.

Hannya Satu Cara

Mendengar apa yang disampaikan panglima barunya, kelima perwira semakin merasa ada sesuatu lebih penting yang akan dimunculkan. Sebab tidaklah mungkin apabila Ohnishi jauh-jauh datang dari Manila hanya untuk mengulang mengenai perkembangan situasi maupun tugas yang harus dilakukan pasukan udaranya. Para perwira ini menantikan apa lagi yang akan disampaikan oleh Ohnishi. Mereka berpikir keras bagaimana mampu melaksanakan misi memukul armada kapal induk Amerika. Jumlah pesawat mereka yang sedikit harus berhadapan dengan kekuatan udara musuh yang begitu besar. Mereka berharap Ohnishi akan menyampaikan jawaban cerdas atas situasi sulit yang dihadapi.

Profil Laksamana Takeo Kurita Panglima Armada Kedua AL Jepang yang bertanggung jawab mempertahankan Filipina dari serbuan Sekutu.

Sesudah terdiam beberapa saat, maka Ohnishi dengan raut serius berkata, “Menurut pendapat saya, hanya ada satu cara untuk menjamin kekuatan kita akan efektif hingga tingkat maksimal. Yaitu kita harus mengorganisasikan unit-unit serangan bunuh diri dengan pesawat-pesawat tempur Zero yang dipersenjatai bom 250 kilogram. Masing-masing pesawat harus menabrakkan diri ke pesawat induk musuh…. Bagaimana pendapat kalian?”

Mata Laksamana Ohnishi dengan tajam memandangi kelima perwira satu-persatu. Tak seorang pun yang angkat bicara. Mereka hanya mengingat bahwa taktik semacam ini pernah dipakai oleh pilot AL Jepang dalam pertempuran udara melawan pesawat pengebom Amerika yang besarbesar. Yaitu dengan menyerempetkan pesawatnya atau dalam kondisi tertentu bahkan menabrakkan diri ke pesawat musuh. Sejumlah pilot AL pun juga pernah menyuarakan taktik serupa terhadap kapal induk musuh. Apalagi tahun 1944 para pilot Jepang harus menghadapi kekuatan yang kian tak imbang. Sehingga semakin banyak dari mereka yang tidak berhasil kembali lagi ke pangkalannya. Karena itu daripada jatuh atau hilang sia-sia, mungkin lebih baik mati tetapi sekaligus dengan menghancurkan musuh.

Akhirnya kesenyapan dipecah oleh Asaichi Tamai “Yoshioka, seberapa efektifkah pesawat dengan bom 250 kilo ditabrakkan ke geladak kapal induk?”. Setelah berpikir sesaat, perwira staf ini pun menjawab bahwa cara itu memang memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengenai sasaran daripada dengan pengeboman konvensional. Kerusakan yang ditimbulkan pun juga lebih parah sehingga membutuhkan waktu berhari-hari untuk memperbailci geladak.

Tamai sebetulnya sudah tahu jawaban tersebut. Tetapi dia sengaja bertanya hanya untuk melepaskan suasana tegang. Dia lalu menyampaikan kepada Laksamana Ohnishi, bahwa sebagai perwira eksekutif dia tidak dapat memutuskan persoalan segenting itu. “Saya harus menanyalcan dulu kepada komandan grup Kapten Yamamoto,” tambahnya. Namun Ohnishi menjawab bahwa dia telah berbicara via telepon dengan Yamamoto yang sedang dirawat di Manila karena kakinya patah akibat pendaratan darurat Zeronya. “Dia menyerahkan segala sesuatunya kepadamu. Pendapatmu adalah pendapatnya,” kata Ohnishi pendek.

Profil komandan satuan serang unit kamikaze 201, Letnan Yukio Seki, yang dikenal sehagai pilot tempur handal.

Mereka yang hadir pun memandang Tamai, menunggu apa yang akan dikatakannya. Tetapi cukup lama Tamai merenung dan membisu, sampai akhirnya meminta kepada Laksamana agar diizinkan untuk berpikir sejenak dengan tenang Tamai lalu menggamit Letnan Ibusuki untuk ikut ke ruang kerjanya. Mereka mendiskusikan berbagai kemungkinan reaksi dan sikap para pilot terhadap taktik serangan bunuh diri.

Beberapa waktu kemudian, Tamai bergabung kembali. Kepada Ohnishi dia melaporkan hasil diskusinya dengan Ibusuki. “Dipercaya oleh komandan kami dan disertai rasa penuh tanggung jawab, saya menyatakan setuju sepenuhnya dengan pendapat Laksamana. Grup Udara 201 akan melaksanakan usulan tersebut. Izinkan saya bertanya, apakah laksamana menyerahkan kepada kami untuk melakukan sendiri pembentukan satuan penyerang tersebut?”

Kapten Rikihei Inoguchi yang di kemudian hari menuliskan kesaksiannya, menyatakan ingat betul akan ekspresi Laksamana Ohnishi sewaktu mendengar laporan Tamai. Tampak kelegaan pada wajahnya, namun juga terbersit kemuraman karena rasa sedih. Dia pun cuma mengangguk tanpa satu kata pun sewaktu menjawab pertanyaan Tamai Artinya, dia menyerahkan pembentukan satuan bunuh diri itu kepada 201 sendiri. Tak lama kemudian Ohnishi minta diri untuk beristirahat, dan pertemuan bersejarah di markas 201 di Mabalacat itu pun berakhir.

Samua bersemangat

Begitu Laksamana Ohnishi meninggalkan ruangan tersebut, maka Tamai malam itu pun langsung bekerja. Pikirannya dipenuhi dengan gambaran tentang kondisi 201 serta para personelnya. Selaku perwira pelaksana 201, dia mengenal semua pilotnya. Bahkan banyak dari mereka sudah dikenalnya sejak masih dalam pendidikan. Para pilot muda itu tergabung dalam Grup Udara 201 dari Armada Udara Pertama AL Jepang dalam bulan Agustus 1944. Mereka baru merampungkan latihan dasar pada Oktober 1943 sewaktu dimasukkan ke dalam Grup Udara 263 di Jepang, untuk menjalani latihan terbang tempur. Pelatihan baru berjalan separuh tatkala pada Februari 1944 mereka mendadak diperintahkan ke Kepulauan Mariana di Pasifik untuk tugas tempur.

Begitulah, dari Tinian, Palau, hingga Yap mereka terus bertempur, menghadapi lawan yang begitu kuat dan berpengalaman. Banyak dari para pilot muda itu yang gugur atau hilang di Pasifik. Mereka yang tersisa pada bulan Agustus ditarik ke Filipina dan dimasukkan ke 201. Namun para pilot muda itu kini sudah merasakan pengalaman dan kegetiran pertempuran yang sesungguhnya. Mereka juga terinspirasi oleh Tamai dari masa pendidikan hingga samasama merasakan beratnya tugas di Pasifik. Tamai selalu menyemangati pilot muda bagai anak-anaknya sendiri, dan merekapun sebaliknya menganggap Tamai sebagai panutan, bahkan sebagai pengganti orangtua mereka. Karena itu bagi Tamai, tugas menyampaikan taktik baru serangan udara bunuh diri kepada mereka terasa bagai beban yang berat sekali. Setelah berkonsultasi dengan para komandan skadron, maka malam itu dia pun memanggil semua pilot untuk berkumpul. Jumlahnya 23 orang. Tamai menjelaskan perkembangan situasi perang terakhir, dan kemudian dengan berhati-hati dia menyampaikan apa yang baru saja diusulkan oleh Ohnishi.

Ternyata penjelasannya disambut dengan antusias oleh para pilot. Tamai tidak menyangka reaksi yang begitu spontan. Tangan-tangan diangkat ke atas disertai sorak-sorai gembira. Moril dan semangat orang-orang muda ini terasa begitu tinggi. Kapten ini berusaha menyembunyikan rasa harunya seraya berpesan agar semua itu sungguh-sungguh dirahasiakan. Pertemuan pun bubar dan para pilot kembali ke barak dengan berbagai pikiran masingmasing.

Tengah malam Tamai kembali ke ruang perwira, menyampaikan hasil pertemuan dengan para pilot. “Mereka semuanya masih mudamuda sekali. Meski saya tidak bisa membaca apa yang ada dalam hati mereka, tetapi saya tak akan lupa wajah-wajah mereka yang menunjukkan tekad kuat. Mata mereka pun bersinar-sinar. Mereka tentu berpikir, inilah saatnya untuk membalaskan rekan-rekan mereka yang gugur di Kepulauan Mariana, Palau dan Yap. Sikap seperti itu sangat wajar dan alami dalam hati kaum muda,” kata Tamai.

Shimpu terbentuk

Para perwira kini yakin bahwa satuan serangan bunuh diri segera dapat dibentuk. Tetapi siapa yang akan diserahi memimpin kesatuan ini? Untuk menentukannya tidaklah mudah, karena untuk memimpin satuan baru yang khusus ini diperlukan perwira terbaik, dalam karakter maupun kemampuannya. Semua sependapat pemimpin kesatuan ini haruslah perwira lulusan akademi AL. Mereka juga menilai Naoshi Kanno adalah orang yang tepat. Namun letnan ini kebetulan sedang ditugaskan bersama sejumlah pilot untuk mengambil pesawat Zero yang baru keluar dari pabrik guna diterbangkan ke Filipina.

suasana bekas pangkalan Grup Udara ke 201 ALJepang yang saat ini difungsikan sebagai tujuan wisata sejarah.

Kanno sebetulnya telah menolak ditugaskan ke Jepang, karena dia merasa front baru di Filipina segera pecah dan is harus terjun langsung menghadapi musuh. Reputasinya sebagai pilot andal dikenal di antara rekannya. Kisahnya menjatuhkan sebuah pengebom berat B-24 Liberator di sekitar Pulau Yap terbilang unik. Dia berusaha merontokkan pesawat Amerika itu dengan tembakan dari Zero-nya, namun tak perrnah berhasil. Akhirnya dia melakukan taktik baru dengan menyerempetkan baling-baling pesawatnya ke rudder atau kemudi pesawat di ekor B-24. Kanno nekat menghadapi musuhnya dari depan sembari menghindari tembakan maupun baling-baling lawannya. Baru pada putaran ketigalah dia berhasil. Bomber Amerika itu pun jauh ke laut. Tetapi serempetan itu membuatnya kehilangan kesadaran beberapa saat hingga akhimya dia berhasil mendaratkan pesawatnya yang rusak cukup berat.

Akhirnya karena Kanno tidak di tempat, para perwira 201 setuju menunjuk Letnan Yukio Seki, yang dinilai memiliki kelebihan dibandingkan rekan-rekannya. Segera di tengah malam itu Seki dipanggil, dan Tamai pun dengan mata berkaca-kaca menjelaskan maksudnya. Perwira muda yang baru satu bulan datang dari Formosa itu menutup muka dengan tangan, terdiam tanpa gerak untuk beberapa waktu. Para perwira di sekelilingnya menahan napas, merasa tegang. Akhirnya Seki pelan-pelan mengangkat kepalanya sambil mengusap rambutnya seraya berkata : “Komandan, anda mutlak harus mengizinkan saya melaksanakan tugas tersebut.” Suaranya tenang dan meyakinkan. “Terima kasih,” jawab Tamai lega.

Salah satu ritual para penerbang kamikaze sebelum melancarkan misi bunuh dirinya adalah berdoa dan merenung sambil memegang bendera malahari terbit Jepang. Para pilot meyakini misinya merupakan tindakan mulia dan terhormat demi membela bangsa dan tanah air.

Dengan setujunya Yukio Seki menjadi pimpinan unit khusus tersebut, maka kesatuan serangan bunuh did atau Tokkotai ini pun terbentuk sudah. Namun mengingat ini merupakan kesatuan khusus, maka para perwira pun memikirkan nama yang akan diberikan. Inoguchi mengusulkan bagaimana jika dinamakan Shimpu, yang merupakan cara lain membaca aksara yang berarti kamikaze atau angin dewata. “Itu bagus. Akhirnya kita siap menghembuskan angin dewata bersamanya,” kata Tamai menanggapi.

Subuh 20 Oktober, terbenuknya kesatuan khusus serangan bunuh diri itu pun dilaporkan kepada Ohnishi, yang mengurung diri dalam kegelapan di salah satu kamar markas 201. Dengan persetujuannya maka langsung dibuat pengumuman resmi yang ditandatanganinya. Pokok pengumuman ini adalah “…terbentuknya sebuah korps khusus penyerang, yang akan menghancurkan atau melumpuhkan kekuatan kapal induk musuh di perairan timur Filipina, jika mungkin sebelum 25 Oktober. Korps ini dinamai Kesatuan Serang Shimpu, yang terdiri dari 26 pesawat tempur, dimana separuhnya bertugas melaksanakan misi penabrakan diri, dan lainnya melakukan tugas pengawalan. Kesatuan ini dibagi dalam empat kelompok : Shikisima, Yamato, Asahi, dan Yamazakura. Komandan kesatuan serang ini adalah Letnan Yukio Seki.”

Kini para pilot 201 tinggal menunggu instruksi selanjutnya, kapan hams melancarkan serangannya. Tamai meminta mereka beristirahat cukup terlebih dulu. Seki sendiri menuju tempat tidurnya dengan ingatan kepada ibunya yang sudah menjanda serta istri yang barn dinikahinya beberapa bulan berselang.

 

Perihal INFO PERTAHANAN
Aku? Kau tanya Aku siapa? Nanti Kau tahu dengan sendirinya ....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: